home masjid

Tobat Nabi Adam dalam Al-Quran: Mekanisme Pulang Paling Awal dalam Sejarah Kemanusiaan

Ahad, 30 November 2025 - 16:00 WIB
Tobatyang diturunkan bersamaan dengan ujian pertamamenjadi penyangga moral yang diwariskan kepada seluruh keturunannya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Dalam banyak kisah suci, kejatuhan manusia bermula dari sebuah pelanggaran. Namun al Quran menghadirkan cerita itu bukan sebagai tragedi, melainkan sebagai gerbang pertama menuju kesadaran moral. Di buku at Taubat Ila Allah,Syaikh Yusuf al Qardhawi menempatkan Nabi Adam sebagai pemimpin orang-orang yang bertaubat—sosok yang salah, tetapi segera pulang, memohon ampun, dan menerima petunjuk.

Ayat Thaaha 121–122 berbunyi: Dan durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Dalam tafsir al Tabari, pemilihan kembali (استفى) menjadi penanda bahwa kesalahan Adam bukan titik akhir. Sementara Fakhruddin al Razi memaknai taubat Adam sebagai contoh bahwa kemuliaan seseorang tidak gugur hanya karena tergelincir—yang menentukan adalah seberapa cepat ia kembali.

Dalam narasi Qardhawi, Adam adalah figur yang lulus ujian ilmu—menguasai nama-nama yang tidak diketahui para malaikat—namun gagal dalam ujian iradah: kemampuan mengendalikan keinginan. Godaan itu sederhana: satu pohon terlarang di tengah kebebasan luas. Ibn Kathir menuliskan bahwa larangan itu dimaksudkan untuk menguji konsistensi ketaatan, bukan untuk menjerumuskan. Namun bujuk rayu syaitan membuat Adam dan Hawa lupa, lalu memakan buah itu.

Di titik inilah perbedaan kisah al Quran dengan tradisi lain muncul. Dalam tafsir al Qurtubi, kesalahan Adam disebut zallah: terpeleset, bukan maksiat yang disengaja. Dan al Quran sama sekali tidak menisbahkan kesalahan kepada keturunan Adam. Tidak ada dosa warisan; yang ada hanyalah pelajaran tentang pilihan moral manusia.

Teks al Quran menggambarkan pemulihan Adam hampir serempak dengan kesalahannya. Dalam QS. al A’raf 23, Adam dan Hawa berdoa:

ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

Doa itu, menurut banyak mufasir, menjadi prototipe pengakuan salah: jujur, tanpa pembelaan, tanpa menyalahkan pihak lain. Di sinilah, menurut Qardhawi, letak kemuliaan Adam: ia cepat kembali.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya