home masjid

Keterjatuhan Manusia Bukan Cacat Bawaan, tetapi Ritme Eksistensial

Selasa, 02 Desember 2025 - 16:01 WIB
Dari perspektif sosial, hadis ini meruntuhkan budaya perfeksionisme moral yang kerap menekan masyarakat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik r.a. ini kerap menjadi pintu masuk para ulama ketika membahas struktur moral manusia dalam Islam. Lafaznya singkat tetapi memuat horizon etika yang luas:

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

Seluruh anak Adam, kata Nabi, adalah pelaku kesalahan. Namun yang terbaik di antara mereka adalah yang kembali, yang bertaubat.

Dalam tradisi hadis, teks ini muncul dalam riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim, dengan jalur perawi Ali bin Mas’adah dari Qatadah. Para ahli hadis tidak sepakat tentang kekuatan sanadnya. Tirmidzi menyebutnya gharib; al-Hakim menilainya sahih; al-Dzahabi mengkritik bahwa Ali layyin; Ibnu Hajar dalam at-Taqrib menyebutnya shaduq namun memiliki awham. Al-Albani kemudian menilainya hasan. Perdebatan ini mencerminkan dinamika kajian hadis: antara kehati-hatian sanad dan bobot makna yang kuat.

Meski isnadnya diperdebatkan, para ulama menerima matannya sebagai prinsip umum dalam teologi dan tasawuf. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menyebut hadis ini sebagai salah satu batu penjuru konsep rahmat dalam Islam. Ia menunjukkan bahwa keterjatuhan manusia bukan cacat bawaan, tetapi ritme eksistensial: manusia bergerak, jatuh, kemudian kembali. Pertobatan adalah mekanisme yang mengonversi kelemahan menjadi gerak naik.

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin memandang fenomena خطاء bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi tanda bahwa manusia hidup dalam ketegangan antara hawa nafsu dan cahaya akal. Di situ taubat menjadi cara memulihkan orientasi. Kesalahan bukan titik akhir, melainkan panggilan untuk kembali memasuki jalan lurus. Dalam bahasa Ihya’, taubat adalah revolusi batin, bukan sekadar maaf secara hukum.

Fazlur Rahman, dalam kajiannya tentang etika Qurani, mengartikan hadis ini sebagai penegasan bahwa Islam tidak menuntut kesempurnaan tanpa cela. Yang diminta adalah respons etis terhadap ketidaksempurnaan itu. Manusia tidak diukur dari jatuhnya, melainkan dari apa yang dilakukan setelah itu. Prinsip ini menurut Rahman adalah inti moralitas dalam al-Quran: rahmat mendahului hukuman, dan reformasi diri mendahului penghukuman diri.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya