LANGIT7.ID-Jakarta; Pertumbuhan industri dana pensiun di Indonesia terus berlanjut hingga pertengahan 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, total aset dana pensiun meningkat 6,47 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.680,57 triliun.
Kenaikan tersebut ditopang pertumbuhan positif pada dua kelompok program pensiun. Program pensiun sukarela mencatatkan pertumbuhan 4,06 persen menjadi Rp407,33 triliun. Sementara program pensiun wajib yang mencakup Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun BPJS Ketenagakerjaan serta program tabungan hari tua dan akumulasi iuran pensiun bagi ASN, TNI, dan Polri tumbuh 7,26 persen menjadi Rp1.273,24 triliun.
Di tengah pertumbuhan itu, transformasi digital dinilai menjadi salah satu langkah yang perlu diperkuat agar industri dana pensiun mampu beradaptasi dengan perubahan sektor keuangan. Pandangan tersebut disampaikan Presiden Direktur PT Aladin Syariah Tbk (Bank Aladin Syariah) Koko T Rachmadi dalam Seminar Nasional dan Forum Diskusi Perkumpulan Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) 2026.
Menurut Koko, penguatan ekosistem keuangan syariah digital menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi industri dana pensiun di Indonesia. Ia menilai perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses layanan keuangan telah membuka peluang baru bagi pelaku industri untuk membangun ekosistem yang lebih terintegrasi.
"Ke depan, kolaborasi antara perbankan syariah, industri dana pensiun, regulator, dan berbagai pemangku kepentingan akan menjadi faktor penting dalam menghadirkan layanan keuangan yang lebih inklusif, efisien, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang," kata Koko dalam keterangannya, dikutip Sabtu (8/8/2026).
Selain memanfaatkan ekosistem digital, menurutnya pengelolaan dana pensiun juga memerlukan pendekatan yang lebih adaptif di tengah meningkatnya dinamika ekonomi global. Pendekatan tersebut meliputi diversifikasi investasi, penerapan prinsip keberlanjutan, serta pemanfaatan ekosistem digital untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan.
Koko mengatakan dana pensiun tidak hanya menjalankan peran sebagai pengelola aset, tetapi juga sebagai pengelola masa depan jutaan pekerja Indonesia.
"Karena itu, kolaborasi antara industri dana pensiun, perbankan syariah, dan ekosistem digital akan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun sistem keuangan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan," lanjutnya.
Ia juga menilai kemampuan membangun ekosistem digital akan semakin menentukan masa depan industri keuangan, termasuk perbankan syariah. Karena itu, perluasan distribusi layanan melalui kanal digital, penguatan kolaborasi lintas industri, serta implementasi open banking dinilai penting untuk mendukung peningkatan pangsa pasar perbankan syariah nasional.
Sejalan dengan arah tersebut, Bank Aladin Syariah terus mengembangkan inovasi digital dan memperkuat kolaborasi agar layanan keuangan syariah semakin mudah diakses serta relevan dengan kebutuhan masyarakat. Perseroan juga memperkuat model bisnis berbasis offline-to-online (O2O) melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis dari sejumlah sektor industri guna menghadirkan layanan keuangan syariah digital yang lebih mudah diakses, terintegrasi, dan sesuai dengan aktivitas masyarakat.
Penguatan kolaborasi strategis tersebut turut mendukung kinerja perseroan. Hingga Juni 2026, Bank Aladin Syariah membukukan total aset sebesar Rp15,1 triliun dengan laba mencapai Rp38,3 miliar. Jumlah nasabah terdaftar juga telah mencapai 3,9 juta orang.
(lam)