LANGIT7.ID-Jakarta; CIMB Niaga Syariah mencatat pertumbuhan penghimpunan dana sepanjang semester I 2026. Total dana yang dihimpun mencapai Rp50,94 triliun, meningkat 5,78% secara tahunan.
Kenaikan juga terjadi pada dana simpanan wadiah yang tumbuh 26,21% menjadi sekitar Rp13,04 triliun.
Dari sisi profitabilitas, CIMB Niaga Syariah membukukan laba bersih Rp679,25 miliar sepanjang semester I 2026. Pendapatan setelah distribusi bagi hasil tercatat Rp1,03 triliun atau meningkat 10,03% secara tahunan.
Direktur Syariah CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, mengatakan fokus bisnis CIMB Niaga Syariah menjelang penghujung 2026 akan diarahkan pada penguatan dana murah dan dana transaksional.
Penyaluran pembiayaan juga akan dilakukan secara selektif kepada segmen konsumer, ritel, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memiliki prospek ekspansi.
Kinerja penghimpunan dana tersebut tercatat ketika industri perbankan syariah masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan syariah berada di level 43,07%, turun dari 43,42% pada 2025. Indeks inklusi keuangan syariah juga turun menjadi 13,24% dari 13,41%.
Pandji sebelumnya menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi perbankan syariah bukan hanya berkaitan dengan pengenalan produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat dipahami dan digunakan dalam kebutuhan finansial sehari-hari.
“Bagaimana mendorong masyarakat untuk memahami manfaatnya dan menggunakannya dalam kebutuhan finansial sehari-hari,” ujar Pandji dalam keterangannya, dikutip Selasa (22/9/2026).
Menurut Pandji, salah satu kendala yang masih dijumpai adalah istilah dan terminologi produk syariah yang belum familiar bagi sebagian masyarakat.
Masyarakat lebih terbiasa dengan istilah kredit, deposito, ataupun pinjaman dibandingkan dengan sejumlah akad syariah seperti murabahah, mudharabah, musyarakah, ijarah, dan wakalah.
Selain itu, masih terdapat pandangan bahwa produk syariah memiliki biaya lebih tinggi dan kurang fleksibel dibandingkan produk konvensional.
“Padahal, saat ini pricing dan fitur produk syariah semakin kompetitif dan terus disesuaikan dengan kebutuhan nasabah,” katanya.
Pandji juga menyebut sebagian masyarakat masih melihat perbankan syariah semata-mata dari aspek keagamaan. Padahal, menurut dia, terdapat aspek lain seperti transparansi akad, asas kemitraan, serta transaksi yang berpijak pada aktivitas ekonomi riil.
Dengan catatan tersebut, CIMB Niaga Syariah memasuki sisa 2026 dengan fokus pada penguatan dana murah dan dana transaksional, sementara pembiayaan diarahkan secara selektif ke segmen konsumer, ritel, dan UMKM yang memiliki prospek ekspansi.
(lam)