Kemenag Gaungkan Moderasi Islam lewat MHQ Internasional Netra, 12 Negara Berpartisipasi
Tim langit 7
Jum'at, 05 Desember 2025 - 16:42 WIB
Kemenag Gaungkan Moderasi Islam lewat MHQ Internasional Netra, 12 Negara Berpartisipasi
LANGIT7.ID–JAKARTA; Jakarta menjadi saksi perhelatan bersejarah yang penuh haru dan spiritualitas. Kementerian Agama (Kemenag) berkolaborasi dengan Muslim World League (MWL) atau Liga Muslim Dunia, menggelar Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) Internasional pertama yang dikhususkan bagi penyandang disabilitas netra.
Ajang ini diikuti peserta dari 12 negara. Ini bukan sekadar kompetisi hafalan, melainkan sebuah panggung kemanusiaan yang menampilkan wajah Islam moderat yang inklusif dan memuliakan.
Suasana syahdu menyelimuti ruangan ketika lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema dari lisan para penjaga wahyu yang istimewa ini. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, dalam sambutan pembukaan menegaskan bahwa MHQ ini membawa pesan yang sangat mendalam. Ia menyebut acara ini sebagai bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa menghalangi cahaya hidayah untuk menembus relung jiwa manusia.
Sorotan utama dalam pidato Sekjen Kemenag tertuju pada konsep bashirah atau penglihatan hati. Di hadapan para delegasi internasional, Kamaruddin menyoroti keteguhan para peserta disabilitas netra yang hadir dari berbagai belahan dunia. Menurutnya, dedikasi mereka menunjukkan sebuah kebenaran spiritual: bahwa penglihatan hati (bashirah) memiliki daya jangkau yang jauh melampaui penglihatan mata fisik (bashar).
"Saudara-saudara kita para peserta di sini telah membuktikan kepada dunia bahwa pandangan batin (bashiirah) lebih mendalam daripada pandangan mata (bashar). Dan bahwa cahaya Al-Qur'an, apabila bersemayam di dalam hati, akan mencukupi pemiliknya dari setiap kekurangan indra," ujar Kamaruddin dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (5/12/2025).
Perjuangan para huffadz (penghafal Qur'an) istimewa ini memang luar biasa. Dengan beragam cara, mulai dari mendengarkan audio tilawah berulang-ulang hingga menggunakan jari-jemari untuk meraba inovasi Qur’an Braille, mereka membuktikan kecintaan yang tulus pada Kalam Ilahi. Al-Qur'an bagi mereka bukan sekadar bacaan, melainkan cahaya yang "membuat hati dapat melihat" serta kekuatan moral yang mampu menegakkan peradaban.
Momentum ini terasa semakin spesial karena digelar bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional. Perhelatan ini menjadi langkah awal yang strategis untuk memberikan wadah seluas-luasnya bagi rekan-rekan disabilitas, menunjukkan kepada dunia kemampuan mereka yang gemilang sebagai penghafal ayat-ayat Allah SWT.
Ajang ini diikuti peserta dari 12 negara. Ini bukan sekadar kompetisi hafalan, melainkan sebuah panggung kemanusiaan yang menampilkan wajah Islam moderat yang inklusif dan memuliakan.
Suasana syahdu menyelimuti ruangan ketika lantunan ayat suci Al-Qur'an menggema dari lisan para penjaga wahyu yang istimewa ini. Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, dalam sambutan pembukaan menegaskan bahwa MHQ ini membawa pesan yang sangat mendalam. Ia menyebut acara ini sebagai bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak pernah bisa menghalangi cahaya hidayah untuk menembus relung jiwa manusia.
Sorotan utama dalam pidato Sekjen Kemenag tertuju pada konsep bashirah atau penglihatan hati. Di hadapan para delegasi internasional, Kamaruddin menyoroti keteguhan para peserta disabilitas netra yang hadir dari berbagai belahan dunia. Menurutnya, dedikasi mereka menunjukkan sebuah kebenaran spiritual: bahwa penglihatan hati (bashirah) memiliki daya jangkau yang jauh melampaui penglihatan mata fisik (bashar).
"Saudara-saudara kita para peserta di sini telah membuktikan kepada dunia bahwa pandangan batin (bashiirah) lebih mendalam daripada pandangan mata (bashar). Dan bahwa cahaya Al-Qur'an, apabila bersemayam di dalam hati, akan mencukupi pemiliknya dari setiap kekurangan indra," ujar Kamaruddin dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (5/12/2025).
Perjuangan para huffadz (penghafal Qur'an) istimewa ini memang luar biasa. Dengan beragam cara, mulai dari mendengarkan audio tilawah berulang-ulang hingga menggunakan jari-jemari untuk meraba inovasi Qur’an Braille, mereka membuktikan kecintaan yang tulus pada Kalam Ilahi. Al-Qur'an bagi mereka bukan sekadar bacaan, melainkan cahaya yang "membuat hati dapat melihat" serta kekuatan moral yang mampu menegakkan peradaban.
Momentum ini terasa semakin spesial karena digelar bertepatan dengan peringatan Hari Disabilitas Internasional. Perhelatan ini menjadi langkah awal yang strategis untuk memberikan wadah seluas-luasnya bagi rekan-rekan disabilitas, menunjukkan kepada dunia kemampuan mereka yang gemilang sebagai penghafal ayat-ayat Allah SWT.