Tinjauan Islam: Banjir Besar dan Jejak Ulah Manusia
Miftah yusufpati
Sabtu, 13 Desember 2025 - 05:45 WIB
Kerusakan bisa dicegah jika manusia kembali pada keadilan dan keseimbangan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di banyak wilayah Indonesia, banjir tiba lebih cepat daripada musimnya. Hujan ekstrem merendam kota, sungai meluap melewati tepiannya, dan daerah yang dulu dianggap aman kini ikut tenggelam. Di ruang-ruang seminar, para ahli hidrologi mengutip data IPCC tentang meningkatnya anomali cuaca dan kerentanan kawasan urban. Namun, dari sudut pandang ajaran Islam, fenomena ini bukan semata soal meteorologi dan tata ruang, melainkan cermin relasi manusia dengan bumi—relasi yang disebut al-Qur’an rapuh akibat ulah manusia itu sendiri.
Salah satu ayat yang sering dikembalikan dalam diskusi itu berbunyi:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan tangan manusia. [ar-Rûm/30:41]
Para ulama memahaminya sebagai gambaran luas tentang kerusakan moral, sosial, dan ekologis. Ibnu Katsîr menafsirkan ayat ini sebagai isyarat bahwa maksiat manusia dapat memicu bencana alam. Tafsir ath-Thabari menyebut kerusakan yang tampak di bumi sebagai efek berantai dari perilaku manusia yang melanggar tatanan yang telah diperbaiki oleh Allah. Syaikh as-Sa’di mengulasnya dengan nada lebih kontemporer: musibah yang menimpa manusia, termasuk bencana alam, berkaitan dengan pelanggaran manusia terhadap keseimbangan yang dititahkan.
Di lapangan, temuan ilmiah memperkuat gagasan itu. Hasil riset BRIN dalam kajian hidrologi menyebut 70 persen banjir besar di Indonesia disebabkan kombinasi curah hujan ekstrem dan perubahan fungsi lahan, terutama penggundulan hutan dan pembangunan yang tak mengikuti analisis dampak lingkungan. Kajian ekolog Janine Benyus atau Fritjof Capra melihat kerusakan lingkungan sebagai hasil sistem hidup manusia yang tak sinkron dengan pola alam.
Di titik ini, tafsir klasik dan sains modern berdiri di titik temu: manusia adalah variabel paling menentukan.
Salah satu ayat yang sering dikembalikan dalam diskusi itu berbunyi:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan tangan manusia. [ar-Rûm/30:41]
Para ulama memahaminya sebagai gambaran luas tentang kerusakan moral, sosial, dan ekologis. Ibnu Katsîr menafsirkan ayat ini sebagai isyarat bahwa maksiat manusia dapat memicu bencana alam. Tafsir ath-Thabari menyebut kerusakan yang tampak di bumi sebagai efek berantai dari perilaku manusia yang melanggar tatanan yang telah diperbaiki oleh Allah. Syaikh as-Sa’di mengulasnya dengan nada lebih kontemporer: musibah yang menimpa manusia, termasuk bencana alam, berkaitan dengan pelanggaran manusia terhadap keseimbangan yang dititahkan.
Di lapangan, temuan ilmiah memperkuat gagasan itu. Hasil riset BRIN dalam kajian hidrologi menyebut 70 persen banjir besar di Indonesia disebabkan kombinasi curah hujan ekstrem dan perubahan fungsi lahan, terutama penggundulan hutan dan pembangunan yang tak mengikuti analisis dampak lingkungan. Kajian ekolog Janine Benyus atau Fritjof Capra melihat kerusakan lingkungan sebagai hasil sistem hidup manusia yang tak sinkron dengan pola alam.
Di titik ini, tafsir klasik dan sains modern berdiri di titik temu: manusia adalah variabel paling menentukan.