Dunia Butuh Kompas Moral Baru, Datuk Ghazali Puji Peran Strategis BAZNAS di Level Global
Tim langit 7
Jum'at, 12 Desember 2025 - 09:24 WIB
Dunia Butuh Kompas Moral Baru, Datuk Ghazali Puji Peran Strategis BAZNAS di Level Global
LANGIT7.ID-Jakarta;General Secretary World Zakat and Waqf Forum (WZWF) H.E. Datuk Dr. Ghazali Md, menegaskan, perlunya arsitektur baru filantropi global untuk menjawab krisis kemanusiaan serta ketimpangan dunia yang terus meningkat. Ia menilai, Indonesia melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI memiliki peran strategis dalam mendorong lahirnya tata kelola filantropi yang lebih adil dan inklusif.
Datuk Ghazali menyebut dunia saat ini berada dalam kondisi yang rapuh, ditandai ketimpangan kekayaan ekstrem, konflik berkepanjangan, guncangan iklim, hingga meningkatnya kebutuhan kemanusiaan yang tak lagi mampu ditangani pemerintah. Situasi ini, menurutnya, menuntut lahirnya “kompas moral” baru bagi umat manusia.
“Kita hidup di era di mana 10 persen orang terkaya menguasai 90 persen kekayaan dunia. Karena itu, dunia membutuhkan kerangka baru yang menggabungkan nilai keadilan, solidaritas, dan kepedulian atau kasih sayang,” ujar Datuk Ghazali dalam acara The 9th International Conference on Zakat (ICONZ) yang diselenggarakan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dikutip Jumat (12/12/2025).
Ia menekankan, keuangan sosial Islam, khususnya zakat dan wakaf, memiliki potensi besar untuk menjadi solusi sistemik terhadap permasalahan kemanusiaan. Zakat dan wakaf, katanya, bukan hanya kewajiban keagamaan, melainkan kebaikan publik yang mendukung semua sektor, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga individu.
Lebih lanjut, Datuk Ghazali turut menyoroti posisi Indonesia dan Malaysia sebagai rujukan global dalam modernisasi sistem zakat dan wakaf. Ia secara khusus mengapresiasi langkah-langkah Indonesia yang dinilainya telah membangun model tata kelola zakat dan wakaf paling maju di dunia.
“Indonesia memberikan rujukan global, ada kerangka hukum yang jelas, pelaporan publik yang transparan, hingga distribusi yang menjangkau desa terpencil, pesantren, dan wilayah rentan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan BAZNAS sebagai otoritas zakat nasional menjadi keunggulan tersendiri. “BAZNAS adalah otoritas zakat profesional. Tidak semua negara memiliki privilese ini,” lanjutnya.
Datuk Ghazali menyebut dunia saat ini berada dalam kondisi yang rapuh, ditandai ketimpangan kekayaan ekstrem, konflik berkepanjangan, guncangan iklim, hingga meningkatnya kebutuhan kemanusiaan yang tak lagi mampu ditangani pemerintah. Situasi ini, menurutnya, menuntut lahirnya “kompas moral” baru bagi umat manusia.
“Kita hidup di era di mana 10 persen orang terkaya menguasai 90 persen kekayaan dunia. Karena itu, dunia membutuhkan kerangka baru yang menggabungkan nilai keadilan, solidaritas, dan kepedulian atau kasih sayang,” ujar Datuk Ghazali dalam acara The 9th International Conference on Zakat (ICONZ) yang diselenggarakan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dikutip Jumat (12/12/2025).
Ia menekankan, keuangan sosial Islam, khususnya zakat dan wakaf, memiliki potensi besar untuk menjadi solusi sistemik terhadap permasalahan kemanusiaan. Zakat dan wakaf, katanya, bukan hanya kewajiban keagamaan, melainkan kebaikan publik yang mendukung semua sektor, mulai dari pemerintah, komunitas, hingga individu.
Lebih lanjut, Datuk Ghazali turut menyoroti posisi Indonesia dan Malaysia sebagai rujukan global dalam modernisasi sistem zakat dan wakaf. Ia secara khusus mengapresiasi langkah-langkah Indonesia yang dinilainya telah membangun model tata kelola zakat dan wakaf paling maju di dunia.
“Indonesia memberikan rujukan global, ada kerangka hukum yang jelas, pelaporan publik yang transparan, hingga distribusi yang menjangkau desa terpencil, pesantren, dan wilayah rentan,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan BAZNAS sebagai otoritas zakat nasional menjadi keunggulan tersendiri. “BAZNAS adalah otoritas zakat profesional. Tidak semua negara memiliki privilese ini,” lanjutnya.