Tauhid yang Dicemari Zaman: Fitrah, Ketakutan, dan Lahirnya Berhala Modern
Miftah yusufpati
Ahad, 14 Desember 2025 - 05:46 WIB
Yang paling sulit bukanlah percaya kepada Tuhan, melainkan menyingkirkan semua yang diam-diam kita perlakukan sebagai Tuhan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah masyarakat yang makin religius sekaligus mudah silau oleh simbol-simbol kesakralan baru, Ir. Muhammad Imaduddin Abdulrahim menawarkan sebuah tesis sederhana: percaya kepada Tuhan bukan prestasi. Ia hanya fitrah. Yang sulit justru mentauhidkan Tuhan dalam dunia yang penuh hiruk-pikuk berhala modern. Gagasan itu tertuang dalam Kuliah Tauhid, buku yang lahir dari atmosfer intelektual Salman ITB pada akhir 1970-an, sebuah era ketika diskusi keislaman menyebar dari masjid kampus ke ruang-ruang publik.
Imaduddin memulai dari ayat-ayat laut bergelora. Manusia, katanya, tidak pernah sepenuhnya ateis; ia hanya mudah lupa. Ketika kapal dilanda badai, yang ingkar pun memanggil nama Tuhan. Saat selamat, ia kembali pongah. Al-Qur’an mengulang skenario itu lebih dari sepuluh kali, seperti sebuah pola psikologi universal. Mircea Eliade menyebutnya nostalgia akan Yang Sakral, dorongan terdalam manusia untuk mencari pusat makna ketika seluruh sandaran runtuh.
Dari sini, Imaduddin menelusuri jejak panjang bagaimana manusia memaknai Tuhan. Tahap paling awal: rasa takjub dan takut pada gejala alam. Ini mengingatkan pada analisis Émile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life: manusia primitif tidak membedakan antara kekuatan ilahi dan gejala sosial-alamiah yang menggetarkan. Pohon besar, gunung, batu, hingga letusan vulkanik menjadi lambang kekuatan gaib. Dalam bingkai yang sama, Karen Armstrong menggambarkan agama purba sebagai upaya menata rasa gentar menjadi ritus.
Namun perjalanan manusia tidak berhenti di situ. Ketika komunitas berkembang, tokoh karismatik sering naik ke panggung sakral. Pemimpin yang pernah menyelamatkan, menggerakkan, atau memukau massa perlahan ditinggikan, bahkan diberi gelar penyelamat bangsa. Di sejumlah masyarakat kuno, pemimpin semacam itu diabadikan menjadi dewa atau semi-dewa. Imaduddin menunjuk contoh kontemporer: Lenin dan Stalin di Rusia, diawetkan dan diziarahi dengan ritus yang tak jauh berbeda dari peribadatan. Harvey Whitehouse menyebut fenomena ini sebagai pengulangan pola ritus intensitas tinggi: emosi kolektif menjadikan manusia rentan memproduksi kultus.
Di titik ini, Imaduddin melakukan kritik tajam: syirik tidak selalu lahir dalam bentuk patung. Ia bisa menjelma dalam pengkultusan tokoh, penghormatan berlebihan, hingga atribusi kekuatan supranatural kepada manusia. Ismail al-Faruqi, dalam Tauhid: Its Implications for Thought and Life, menyebut sikap ini sebagai pergeseran pusat otoritas dari Tuhan kepada makhluk, sebuah kemunduran teologis yang tampak modern tetapi berakar purba.
Tetapi Imaduddin tidak sekadar mengecam fenomena peribadatan primitif. Ia juga menantang pola keberagamaan yang hanya berhenti pada kepercayaan teoretis. Menurutnya, tauhid bukan sekadar pengakuan intelektual tentang wujud Tuhan, melainkan orientasi hidup. Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an menyebut tauhid sebagai sumbu moral yang menuntut konsistensi: manusia tidak mungkin menyembah Tuhan sambil bergantung pada kekuatan-kekuatan semu.
Kuliah Tauhid kemudian bergerak ke pertanyaan yang lebih filosofis: jika fitrah bertuhan itu universal, mengapa manusia tetap menyimpang? Imaduddin menjawab dengan dialektika antara ketakutan dan harapan. Dalam situasi penuh ancaman, manusia kembali kepada Tuhan. Namun dalam keadaan mapan, ia membuat berhala-berhalanya sendiri: benda suci, lokasi keramat, pemimpin yang suaranya tak boleh dibantah, hingga konsep-konsep modern yang diperlakukan seperti dogma ilmiah. Fitrah bertuhan menjadi kabur oleh produksi simbol yang berlipat-lipat.
Imaduddin memulai dari ayat-ayat laut bergelora. Manusia, katanya, tidak pernah sepenuhnya ateis; ia hanya mudah lupa. Ketika kapal dilanda badai, yang ingkar pun memanggil nama Tuhan. Saat selamat, ia kembali pongah. Al-Qur’an mengulang skenario itu lebih dari sepuluh kali, seperti sebuah pola psikologi universal. Mircea Eliade menyebutnya nostalgia akan Yang Sakral, dorongan terdalam manusia untuk mencari pusat makna ketika seluruh sandaran runtuh.
Dari sini, Imaduddin menelusuri jejak panjang bagaimana manusia memaknai Tuhan. Tahap paling awal: rasa takjub dan takut pada gejala alam. Ini mengingatkan pada analisis Émile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life: manusia primitif tidak membedakan antara kekuatan ilahi dan gejala sosial-alamiah yang menggetarkan. Pohon besar, gunung, batu, hingga letusan vulkanik menjadi lambang kekuatan gaib. Dalam bingkai yang sama, Karen Armstrong menggambarkan agama purba sebagai upaya menata rasa gentar menjadi ritus.
Namun perjalanan manusia tidak berhenti di situ. Ketika komunitas berkembang, tokoh karismatik sering naik ke panggung sakral. Pemimpin yang pernah menyelamatkan, menggerakkan, atau memukau massa perlahan ditinggikan, bahkan diberi gelar penyelamat bangsa. Di sejumlah masyarakat kuno, pemimpin semacam itu diabadikan menjadi dewa atau semi-dewa. Imaduddin menunjuk contoh kontemporer: Lenin dan Stalin di Rusia, diawetkan dan diziarahi dengan ritus yang tak jauh berbeda dari peribadatan. Harvey Whitehouse menyebut fenomena ini sebagai pengulangan pola ritus intensitas tinggi: emosi kolektif menjadikan manusia rentan memproduksi kultus.
Di titik ini, Imaduddin melakukan kritik tajam: syirik tidak selalu lahir dalam bentuk patung. Ia bisa menjelma dalam pengkultusan tokoh, penghormatan berlebihan, hingga atribusi kekuatan supranatural kepada manusia. Ismail al-Faruqi, dalam Tauhid: Its Implications for Thought and Life, menyebut sikap ini sebagai pergeseran pusat otoritas dari Tuhan kepada makhluk, sebuah kemunduran teologis yang tampak modern tetapi berakar purba.
Tetapi Imaduddin tidak sekadar mengecam fenomena peribadatan primitif. Ia juga menantang pola keberagamaan yang hanya berhenti pada kepercayaan teoretis. Menurutnya, tauhid bukan sekadar pengakuan intelektual tentang wujud Tuhan, melainkan orientasi hidup. Fazlur Rahman dalam Major Themes of the Qur’an menyebut tauhid sebagai sumbu moral yang menuntut konsistensi: manusia tidak mungkin menyembah Tuhan sambil bergantung pada kekuatan-kekuatan semu.
Kuliah Tauhid kemudian bergerak ke pertanyaan yang lebih filosofis: jika fitrah bertuhan itu universal, mengapa manusia tetap menyimpang? Imaduddin menjawab dengan dialektika antara ketakutan dan harapan. Dalam situasi penuh ancaman, manusia kembali kepada Tuhan. Namun dalam keadaan mapan, ia membuat berhala-berhalanya sendiri: benda suci, lokasi keramat, pemimpin yang suaranya tak boleh dibantah, hingga konsep-konsep modern yang diperlakukan seperti dogma ilmiah. Fitrah bertuhan menjadi kabur oleh produksi simbol yang berlipat-lipat.