home masjid

Dakwah Menurut Al-Quran: Wahyu yang Turun Mengikuti Kebutuhan

Jum'at, 19 Desember 2025 - 17:00 WIB
Al-Quran tidak turun sekaligus. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Sejarah turunnya Al-Quran memperlihatkan satu pola yang konsisten: wahyu bergerak seiring dengan kebutuhan dakwah. Ayat-ayat turun sedikit demi sedikit, menanggapi persoalan nyata yang dihadapi Nabi MuhammadSAW dan masyarakatnya. Bagi M. Quraish Shihab, inilah bukti bahwa Al-Quran bukan teks yang turun di ruang hampa, melainkan hadir sebagai petunjuk hidup yang berdialog dengan realitas.

Puncak proses dakwah itu ditandai dengan pernyataan kesempurnaan agama dalam QS 5:3. Ketika masyarakat Islam telah terbentuk dan ajaran Islam diterima secara luas, wahyu pun mencapai titik finalnya. Kesempurnaan ini bukan berarti kemandekan, tetapi kelengkapan prinsip-prinsip dasar yang dapat diterapkan lintas ruang dan waktu.

Al-Quran menyesuaikan bahasa dakwahnya dengan kondisi sosial budaya masyarakat Arab. Sejarah bangsa-bangsa sekitar Jazirah Arab, adat istiadat jahiliah, serta konflik sosial yang mereka alami dijadikan bahan argumentasi. Namun, menurut Fazlur Rahman, konteks ini berfungsi sebagai pintu masuk, bukan batas akhir penerapan pesan Al-Quran.

Metode dakwah Al-Quran menolak pendekatan abstrak yang kering. Ia menyampaikan nilai-nilai universal melalui contoh konkret dan pengalaman historis. Seperti dikemukakan Toshihiko Izutsu, pesan moral Al-Quran bekerja melalui transformasi makna dalam kehidupan nyata, bukan melalui sistem filsafat yang tertutup.

Pengulangan tema dalam Al-Quran, yang sering disalahpahami sebagai repetisi, justru merupakan strategi dakwah. Pesan yang sama disampaikan dengan redaksi berbeda agar tidak menimbulkan kejenuhan dan dapat menjangkau beragam tingkat kecerdasan audiens. Ini mencerminkan prinsip komunikasi efektif yang kini dikenal dalam ilmu dakwah modern.

Al-Quran juga menggunakan argumen rasional, termasuk argumen kosmologis tentang keberadaan Tuhan, yang bahkan diakui kekuatannya oleh filsuf Barat seperti Immanuel Kant. Penolakan terhadap syirik dalam Al-Quran melampaui konteks Arab, mencakup segala bentuk pengultusan selain Tuhan dalam sejarah manusia.

Dakwah Al-Quran menuntut kesabaran dan ketekunan. Seorang da’i, seperti dicontohkan Nabi, tidak boleh putus asa atau terpaku pada satu metode. Pendekatan dapat berubah, tetapi tujuan tetap: membimbing manusia menuju keimanan, akhlak mulia, dan tatanan hukum yang adil.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya