BSN Bidik Ekspansi Digital dan Pembiayaan Usai Resmi Beroperasi di Seluruh Indonesia
Tim langit 7
Selasa, 23 Desember 2025 - 11:02 WIB
BSN Bidik Ekspansi Digital dan Pembiayaan Usai Resmi Beroperasi di Seluruh Indonesia
LANGIT7.ID-Jakarta; PT mulai memasuki fase ekspansi setelah resmi beroperasi secara nasional pada Senin (22/12/2025). Bank syariah hasil spin-off dari ini menandai babak baru penguatan bisnis syariah dengan fokus pada pertumbuhan pembiayaan, digitalisasi layanan, dan perluasan pasar.
Peresmian operasional nasional tersebut menjadi titik awal implementasi strategi agresif BSN, seiring rampungnya proses pemisahan usaha yang disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada November 2025. Dengan status baru sebagai bank umum syariah, BSN kini memiliki ruang yang lebih luas untuk mengakselerasi kinerja secara mandiri.
Direktur Utama BSN Alex Sofjan Noor menegaskan, kesiapan operasional secara serentak di seluruh cabang mencerminkan konsistensi perseroan menjalankan peta jalan bisnis yang telah ditetapkan sejak awal spin-off.
“Peresmian operasional BSN pada hari ini merupakan hasil kerja keras dari rangkaian proses panjang yang dilalui perseroan dengan dukungan kuat para pemangku kepentingan. Kami percaya, dengan kekuatan fundamental yang dimiliki BSN serta peluang yang masih terbuka luas di ekosistem perbankan syariah, perseroan dapat meningkatkan kinerja sekaligus memantapkan posisi sebagai katalisator,” kata Alex dalam keterangannya, dikutip Selasa (23/12/2025).
Alex menjelaskan, potensi pertumbuhan perbankan syariah nasional masih sangat besar, khususnya pada segmen di luar pembiayaan perumahan. Produk seperti tabungan emas, tabungan haji dan umrah, hingga gadai emas dinilai belum tergarap optimal, padahal memiliki basis pasar yang luas.
Faktor demografi turut memperkuat peluang tersebut. Indonesia tercatat memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dengan jumlah mencapai 242,7 juta jiwa. Namun, tingkat pemanfaatan layanan perbankan syariah masih belum sebanding dengan tingkat pengetahuan masyarakat.
Data Indeks Inklusi Keuangan Syariah yang baru mencapai 12,88% berbanding terbalik dengan Indeks Literasi Keuangan Syariah (ILKS) sebesar 39,11% pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama industri bukan pada pemahaman produk, melainkan akses dan kemudahan layanan.
Peresmian operasional nasional tersebut menjadi titik awal implementasi strategi agresif BSN, seiring rampungnya proses pemisahan usaha yang disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada November 2025. Dengan status baru sebagai bank umum syariah, BSN kini memiliki ruang yang lebih luas untuk mengakselerasi kinerja secara mandiri.
Direktur Utama BSN Alex Sofjan Noor menegaskan, kesiapan operasional secara serentak di seluruh cabang mencerminkan konsistensi perseroan menjalankan peta jalan bisnis yang telah ditetapkan sejak awal spin-off.
“Peresmian operasional BSN pada hari ini merupakan hasil kerja keras dari rangkaian proses panjang yang dilalui perseroan dengan dukungan kuat para pemangku kepentingan. Kami percaya, dengan kekuatan fundamental yang dimiliki BSN serta peluang yang masih terbuka luas di ekosistem perbankan syariah, perseroan dapat meningkatkan kinerja sekaligus memantapkan posisi sebagai katalisator,” kata Alex dalam keterangannya, dikutip Selasa (23/12/2025).
Alex menjelaskan, potensi pertumbuhan perbankan syariah nasional masih sangat besar, khususnya pada segmen di luar pembiayaan perumahan. Produk seperti tabungan emas, tabungan haji dan umrah, hingga gadai emas dinilai belum tergarap optimal, padahal memiliki basis pasar yang luas.
Faktor demografi turut memperkuat peluang tersebut. Indonesia tercatat memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dengan jumlah mencapai 242,7 juta jiwa. Namun, tingkat pemanfaatan layanan perbankan syariah masih belum sebanding dengan tingkat pengetahuan masyarakat.
Data Indeks Inklusi Keuangan Syariah yang baru mencapai 12,88% berbanding terbalik dengan Indeks Literasi Keuangan Syariah (ILKS) sebesar 39,11% pada 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama industri bukan pada pemahaman produk, melainkan akses dan kemudahan layanan.