home sosok muslim

Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi, sang Arsitek Nalar dari Ponorogo Itu Telah Tiada

Sabtu, 03 Januari 2026 - 21:53 WIB
Prof. KH Amal Fathullah Zarkasyi. Foto: Ist
LANGIT7.ID-Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor sekaligus Guru Besar pertama Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi, wafat pada Sabtu, 3 Januari 2026, di Solo, Jawa Tengah. Kepergian tokoh pendidikan Islam tersebut meninggalkan duka mendalam bagi kalangan pesantren dan umat Islam di Indonesia.

Berita itu merambat cepat dari Solo ke Ponorogo, lalu meluber ke seantero tanah air melalui grup-grup percakapan singkat. Gontor berduka. Indonesia kehilangan satu lagi sumbu intelektualnya.

Prof. Amal bukan sekadar nama besar di balik meja birokrasi kampus Unida Gontor. Ia adalah pewaris sekaligus penerjemah visi besar "Trimurti" pendiri Gontor. Sebagai putra dari KH Imam Zarkasyi—salah satu pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor—Amal membawa beban sejarah di pundaknya sejak muda. Ia tak hanya menjaga warisan, tapi melampauinya dengan mendirikan fondasi akademik yang kokoh: menjadi Guru Besar pertama dalam sejarah institusi tersebut.

Di kalangan santri, KH Amal dikenal sebagai sosok yang bicara melalui kerja. Jika sang ayah, KH Imam Zarkasyi, dalam buku Pedoman Pendidikan Modern menekankan pada kemandirian dan kebebasan berpikir santri, maka Prof. Amal menerjemahkannya ke dalam kerangka saintifik yang lebih luas melalui "Islamisasi Ilmu Pengetahuan". Ini adalah proyek intelektual yang ia kawal dengan tekun, memastikan bahwa Gontor tidak hanya mencetak ahli agama, tapi intelektual yang beriman.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang mendengar kabar duka itu, segera mengirimkan pesan belasungkawa. Bagi Haedar, KH Amal adalah representasi dari "Islam Berkemajuan" dalam format pesantren. "Almarhum memiliki spirit keumatan yang kuat untuk memajukan umat dan bangsa melalui pendidikan Islam yang berkemajuan," ujar Haedar. Kedekatan pemikiran KH Amal dengan Muhammadiyah memang bukan rahasia. Keduanya bertemu pada satu titik temu: membangun peradaban melalui nalar mencerahkan.

Jejak intelektual Prof Amal terekam dalam diskursus teologi Islam. Dalam berbagai karya ilmiahnya, ia sering menekankan pentingnya teologi yang fungsional bagi masyarakat, bukan sekadar perdebatan langit.

Integrasi antara sistem pesantren yang disiplin dengan sistem universitas yang kritis menjadi sumbangsih terbesarnya. Di bawah kepemimpinannya sebagai Rektor Unida Gontor, lembaga ini bertransformasi menjadi universitas pesantren pertama yang diakui secara luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya