China Krisis Populasi, Angka Kelahiran di Rekor Terendah Tapi Angka Kematian Tertinggi
Lusi mahgriefie
Rabu, 21 Januari 2026 - 10:13 WIB
Ilustrasi: ist
Populasi Chinamenurun untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025. Ini disebabkan karena angka kelahiran anjlok ke rekor terendah, meski pemerintah telah meluncurkan serangkaian insentif untuk meningkatkannya.
Populasi negara itu turun 3,39 juta jiwa, menjadi 1,4 miliar pada akhir tahun 2025. Angka tersebut menandai penurunan yang lebih cepat daripada tahun sebelumnya, menurut data pemerintah pada hari Senin (19/1/)
Angka kelahirannya turun menjadi 5,63 per 1.000 orang, rekor terendah sejak Partai Komunis berkuasa pada tahun 1949. Sementara angka kematiannya naik menjadi 8,04 per 1.000 orang, tertinggi sejak tahun 1968.
Menghadapi populasi yang menua dan ekonomi yang lesu, Beijing telah berupaya keras untuk mendorong lebih banyak kaum muda untuk menikah dan memiliki anak.
Pada tahun 2016, Tiongkok menghapus kebijakan satu anak yang telah lama berlaku dan menggantinya dengan batasan dua anak. Ketika hal itu tidak menyebabkan peningkatan kelahiran yang berkelanjutan, pihak berwenang mengumumkan bahwa mereka akan mengizinkan hingga tiga anak per pasangan pada tahun 2021.
Baca juga:Populasi Muslim di India Diprediksi Tembus 248,96 Juta pada 2030
Baru-baru ini, Pemerintah China (Tiongkok) menawarkan kepada orangtua 3.600 yuan atau sekira Rp8.550.513 untuk setiap anak berusia di bawah tiga tahun. Beberapa provinsi juga memberikan bonus bayi mereka sendiri, termasuk pembayaran tambahan dan cuti melahirkan yang diperpanjang.
Populasi negara itu turun 3,39 juta jiwa, menjadi 1,4 miliar pada akhir tahun 2025. Angka tersebut menandai penurunan yang lebih cepat daripada tahun sebelumnya, menurut data pemerintah pada hari Senin (19/1/)
Angka kelahirannya turun menjadi 5,63 per 1.000 orang, rekor terendah sejak Partai Komunis berkuasa pada tahun 1949. Sementara angka kematiannya naik menjadi 8,04 per 1.000 orang, tertinggi sejak tahun 1968.
Menghadapi populasi yang menua dan ekonomi yang lesu, Beijing telah berupaya keras untuk mendorong lebih banyak kaum muda untuk menikah dan memiliki anak.
Pada tahun 2016, Tiongkok menghapus kebijakan satu anak yang telah lama berlaku dan menggantinya dengan batasan dua anak. Ketika hal itu tidak menyebabkan peningkatan kelahiran yang berkelanjutan, pihak berwenang mengumumkan bahwa mereka akan mengizinkan hingga tiga anak per pasangan pada tahun 2021.
Baca juga:Populasi Muslim di India Diprediksi Tembus 248,96 Juta pada 2030
Baru-baru ini, Pemerintah China (Tiongkok) menawarkan kepada orangtua 3.600 yuan atau sekira Rp8.550.513 untuk setiap anak berusia di bawah tiga tahun. Beberapa provinsi juga memberikan bonus bayi mereka sendiri, termasuk pembayaran tambahan dan cuti melahirkan yang diperpanjang.