LPPOM Gaungkan Integrasi Halal dan ESG di Panggung International Halal Symposium 2026
LANGIGT7.ID-Jakarta; Integrasi prinsip Halal dengan Environmental, Social, and Governance (ESG) kini menjadi instrumen strategis dalam kepemimpinan etis global. Konsep ini tidak lagi sekadar menuntut kepatuhan regulasi, melainkan menekankan keberlanjutan dan tata kelola beretika. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam International Halal Symposium 2026 yang menempatkan nilai halal sebagai fondasi pembangunan peradaban dunia.
Salah satu terobosan konkret dalam penggabungan dua nilai ini adalah inisiasi Green Halal Ratings Framework. Sistem penilaian ini dirancang untuk memastikan transparansi, tata kelola, dan keberlanjutan berjalan beriringan dalam seluruh rantai nilai organisasi. Kerangka kerja ini mencakup lima pilar utama, yakni Governance & Policy, Human Capital & Culture, Supply Chain & Materials, Products, serta Monitoring & Evaluation. Sebelumnya, kerangka ini telah diperkenalkan di AZHAB Forum, Baku, Azerbaijan pada Juni 2025 dengan jenjang implementasi mulai dari Bronze, Silver, hingga Gold.
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM) membawa gagasan tersebut ke panggung simposium yang digelar di Menara Syariah PIK 2, Banten, pada 21 Januari 2026. Dalam forum kolaborasi antara Menara Syariah, ISTAC, dan IIUM bertajuk “Halal Beyond Compliance: A Strategic Pathway to Global Leadership” ini, LPPOM menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), namun juga sebagai penggerak integrasi nilai sosial dan lingkungan.
Raafqi Ranasasmita, M.Biomed., Vice President Corporate Secretary LPPOM, memaparkan pengalaman lembaganya dalam menavigasi irisan antara Halal dan ESG pada sesi diskusi panel. Raafqi menekankan pentingnya perluasan makna sertifikasi.
“Sebagai stakeholder industri halal Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga manusia dan lingkungan. Ketika kita berbicara tentang halal dan ESG, saya percaya bahwa kita harus memperluas makna sertifikasi halal, tidak hanya pada apa yang kita ucapkan, tetapi salah satunya mengintegrasikan halal dengan ESG. Saya rasa kita sudah di jalur yang tepat. Semoga kita dapat terus mengeksplorasi dan mengembangkan hal ini bersama,” ujar Raafqi dalam diskusi bertema Halal in a Global Context: Wisdom Leadership for Sustainable Humanity and Development, dikutip Selasa (27/1/2026).
Implementasi nyata dari visi tersebut terlihat melalui program Inclusive & Green Workspace. LPPOM menyediakan fasilitas ramah disabilitas dan pelatihan bahasa isyarat, serta menjalankan program daur ulang yang sukses mereduksi emisi karbon hingga 1.566 ton CO₂. Di sektor sosial, program CSR lembaga ini telah menyentuh 37 institusi kemanusiaan. Agenda CSR – Festival Syawal bahkan mencatat keterlibatan 9.954 peserta dengan capaian 1.531 sertifikat halal.
Dari sisi tata kelola internal, komitmen keberlanjutan diterapkan lewat pendekatan Excellent Care yang memprioritaskan kesejahteraan SDM, mulai dari penyediaan ruang laktasi, area olahraga, hingga fasilitas kesehatan. Dampaknya terukur signifikan melalui metode Measuring Outcomes menggunakan Gallup 13 Engagement Question, di mana skor keterikatan karyawan mencapai angka 92,32 persen. Konsistensi kinerja ini membuahkan sejumlah penghargaan bagi LPPOM, termasuk Global Islamic Finance Awards 2025, Corporate Secretary Champions 2023, serta predikat Best NGO Initiatives.