Dengan Tangan Dingin di Tengah Badai Pasar, Iman Rachman, Dirut BEI Mundur Usai IHSG Anjlok, Ada Apa Ini?
Tim langit 7
Jum'at, 30 Januari 2026 - 11:49 WIB
Dengan Tangan Dingin di Tengah Badai Pasar, Iman Rachman, Dirut BEI Mundur Usai IHSG Anjlok, Ada Apa Ini?
LANGIT7.ID-Jakarta; Pasar modal Indonesia diguncang dua peristiwa besar dalam waktu berdekatan: jatuhnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara tajam dan pengunduran diri direktur utama otoritas bursanya, Iman Rachman, Jumat (30/1) pagi. Keputusan mundurnya disampaikan langsung sebagai bentuk tanggung jawab atas gejolak yang melanda pasar saham dalam dua hari terakhir.
"Saya sebagai direktur utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri," ujar Iman dalam konferensi pers di Gedung BEI. Ia berharap langkahnya ini dapat membawa kebaikan bagi pasar modal Indonesia.
Keputusan itu mengejutkan banyak pihak, mengingat rekam jejak panjang pria kelahiran Jakarta itu di dunia keuangan dan BUMN. Iman, yang diangkat sebagai Dirut BEI melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 29 Juni 2022, bukanlah figur baru. Karirnya dimulai di PT Danareksa Sekuritas (1998-2003), kemudian berlanjut sebagai Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas (2003-2016).
Sebelum memimpin BEI, Iman lebih dulu dikenal di lingkaran BUMN. Ia pernah menduduki posisi puncak sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) (2019-2020), serta menjabat sebagai Direktur Keuangan di PT Pelabuhan Indonesia II dan III. Posisi terdekatnya sebelum ke BEI adalah sebagai Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero).
Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (1995) dan pemegang gelar MBA in Finance dari Leeds University Business School, Inggris (1997) ini juga dikenal sebagai eksekutif berprestasi. Ia menyandang sejumlah penghargaan, seperti CEO Visioner Terbaik 2020 dan Best CFO 2017.
Dampak Keputusan MSCI Picu Anjlokan
Pengunduran diri Iman tak terlepas dari badai yang menerjang pasar modal sejak Rabu (28/1). Pemicu utamanya adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk membekukan sementara perlakuan indeks bagi saham-saham Indonesia. Kebijakan ini mencakup pembekuan kenaikan bobot saham, penghentian penambahan saham baru, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di semua segmen indeks MSCI.
"Saya sebagai direktur utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri," ujar Iman dalam konferensi pers di Gedung BEI. Ia berharap langkahnya ini dapat membawa kebaikan bagi pasar modal Indonesia.
Keputusan itu mengejutkan banyak pihak, mengingat rekam jejak panjang pria kelahiran Jakarta itu di dunia keuangan dan BUMN. Iman, yang diangkat sebagai Dirut BEI melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 29 Juni 2022, bukanlah figur baru. Karirnya dimulai di PT Danareksa Sekuritas (1998-2003), kemudian berlanjut sebagai Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas (2003-2016).
Sebelum memimpin BEI, Iman lebih dulu dikenal di lingkaran BUMN. Ia pernah menduduki posisi puncak sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) (2019-2020), serta menjabat sebagai Direktur Keuangan di PT Pelabuhan Indonesia II dan III. Posisi terdekatnya sebelum ke BEI adalah sebagai Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero).
Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran (1995) dan pemegang gelar MBA in Finance dari Leeds University Business School, Inggris (1997) ini juga dikenal sebagai eksekutif berprestasi. Ia menyandang sejumlah penghargaan, seperti CEO Visioner Terbaik 2020 dan Best CFO 2017.
Dampak Keputusan MSCI Picu Anjlokan
Pengunduran diri Iman tak terlepas dari badai yang menerjang pasar modal sejak Rabu (28/1). Pemicu utamanya adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk membekukan sementara perlakuan indeks bagi saham-saham Indonesia. Kebijakan ini mencakup pembekuan kenaikan bobot saham, penghentian penambahan saham baru, serta tidak adanya kenaikan kelas saham di semua segmen indeks MSCI.