home edukasi & pesantren

Tegalsari dan Gontor Sebagai Muara Kepemimpinan Nasional (2-Habis)

Rabu, 14 Juli 2021 - 17:30 WIB
Pondok Modern Darussalam Gontor (foto: gontor.ac.id)
Transisi Gontor Lama ke Gontor Baru



Pondok Gontor Lama terus melanjutkan cita-cita Tegalsari. Pada saat Santoso Anom Besari wafat pada 1926, putra pertama beliau Rahma Sutarto berusaha melanjutkan perjuangan sang ayah.

“Beliau mencoba untuk mengajarkan apa apa yang telah diajarkan. Tapi beliau juga seorang kepala desa, maka akan berbenturan kepentingan masyarakat maupun pekerjaan untuk membangun masyarakat dan membangun santri,” ujar HusnanBey Fanani, cucu salah satu pendiri Gontor KH Zainuddin Fanani.

Saat Rahma Sutarto merasa tak sanggup membagi tugas, ia memanggil adik kelimanya, KH Ahmad Sahal. KH Ahmad Sahal diminta untuk meneruskan Pondok Gontor Lama yang pasang surut sepeninggal Santoso Anom Besari.

“Waktu itu pak Sahal baru berusia 25 tahun, karena beliau lahir pada 1901. Pak Zainuddin masih di Solo, di Jamsaren waktu itu, Beliau lahir 1905 berarti baru 21 tahun. Masih terlalu muda. Pak Imam Zarkasyi lebih muda lagi , beliau lahir 1910, berarti baru 16 tahun,” tutur Husnan.

Maka pada 1926, Pondok Gontor resmi dipegang oleh KH Ahmad Sahal. Dia menghidupkan kembali tarbiyatul athfal, tarbiyatul muta'allimin, tarbiyatul muallimin, sulamul atfal, sulamul mutaalimin, dan sulamul muallimin.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
ponpes tegalsari ponpes gontor trimurti gontor unida gontor
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya