Kiamat Sudah Dekat: Ketika Masjid Hanya Menjadi Ajang Pamer Kemewahan
Miftah yusufpati
Senin, 02 Februari 2026 - 04:15 WIB
Nubuatan ini tidak sedang membicarakan alat musik dalam ruang hampa, melainkan dalam ekosistem kemaksiatan yang menyertainya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di berbagai sudut kota hingga pelosok desa, pemandangan kubah-kubah berlapis emas dan menara-menara yang menembus awan kian lazim ditemui. Marmer impor dari Italia dan kaligrafi berlapis prada menjadi standar baru dalam pembangunan rumah ibadah. Namun, di balik kemegahan fisik yang menghabiskan miliaran rupiah tersebut, sebuah pertanyaan besar mengusik: apakah keriuhan pembangunan ini sebanding dengan keriuhan spiritualitas di dalamnya?
Dalam perspektif eskatologi Islam, fenomena berlomba-lomba menghias masjid bukan sekadar urusan estetika arsitektur, melainkan sebuah sinyalemen tentang pergeseran orientasi umat yang kian menjauh dari substansi.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra mengatakanfenomena ini dikupas sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang mencerminkan kemegahan lahiriah di tengah kekosongan batiniah. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini menggarisbawahi bahwa ketika masjid hanya menjadi ajang pamer kemewahan, fungsi aslinya sebagai pusat pembinaan jiwa sedang berada dalam ancaman.
Ketajaman nubuatan ini terekam dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari secara mu’allaq dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, yang memberikan peringatan sangat tegas:
لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
Artinya: Sungguh kamu akan menghiasinya sebagaimana bangsa Yahudi dan Nashrani menghias tempat-tempat ibadah mereka.
Jebakan Formalisme dan Matinya Substansi
Dalam perspektif eskatologi Islam, fenomena berlomba-lomba menghias masjid bukan sekadar urusan estetika arsitektur, melainkan sebuah sinyalemen tentang pergeseran orientasi umat yang kian menjauh dari substansi.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra mengatakanfenomena ini dikupas sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang mencerminkan kemegahan lahiriah di tengah kekosongan batiniah. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini menggarisbawahi bahwa ketika masjid hanya menjadi ajang pamer kemewahan, fungsi aslinya sebagai pusat pembinaan jiwa sedang berada dalam ancaman.
Ketajaman nubuatan ini terekam dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari secara mu’allaq dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, yang memberikan peringatan sangat tegas:
لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى
Artinya: Sungguh kamu akan menghiasinya sebagaimana bangsa Yahudi dan Nashrani menghias tempat-tempat ibadah mereka.
Jebakan Formalisme dan Matinya Substansi