LANGIT7.ID- Di berbagai sudut kota hingga pelosok desa, pemandangan kubah-kubah berlapis emas dan menara-menara yang menembus awan kian lazim ditemui. Marmer impor dari Italia dan kaligrafi berlapis prada menjadi standar baru dalam pembangunan rumah ibadah. Namun, di balik kemegahan fisik yang menghabiskan miliaran rupiah tersebut, sebuah pertanyaan besar mengusik: apakah keriuhan pembangunan ini sebanding dengan keriuhan spiritualitas di dalamnya?
Dalam perspektif eskatologi Islam, fenomena berlomba-lomba menghias masjid bukan sekadar urusan estetika arsitektur, melainkan sebuah sinyalemen tentang pergeseran orientasi umat yang kian menjauh dari substansi.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra mengatakan fenomena ini dikupas sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang mencerminkan kemegahan lahiriah di tengah kekosongan batiniah. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad ini menggarisbawahi bahwa ketika masjid hanya menjadi ajang pamer kemewahan, fungsi aslinya sebagai pusat pembinaan jiwa sedang berada dalam ancaman.
Ketajaman nubuatan ini terekam dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari secara mu’allaq dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, yang memberikan peringatan sangat tegas:
لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَىArtinya:
Sungguh kamu akan menghiasinya sebagaimana bangsa Yahudi dan Nashrani menghias tempat-tempat ibadah mereka.
Jebakan Formalisme dan Matinya SubstansiInterpretasi ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah ini membawa kita pada otopsi sosial terhadap kondisi zaman. Menghiasi masjid secara berlebihan dipandang sebagai bentuk pengekoran terhadap budaya kaum terdahulu yang lebih mengutamakan dekorasi tempat ibadah ketimbang mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya. Secara sosiologis, ini adalah bentuk pelarian ke arah formalisme.
Ketika masyarakat atau pengurus masjid lebih sibuk mendiskusikan jenis lampu kristal daripada memikirkan bagaimana memakmurkan shaf shalat atau memberdayakan ekonomi jamaah, itulah saat di mana orientasi sakralitas telah bergeser menjadi profan. Masjid yang seharusnya menjadi tempat sujud yang tenang kini berubah menjadi museum seni yang kompetitif.
Secara analitis, kompetisi kemegahan ini mencerminkan apa yang disebut sebagai matinya kerendahhatian dalam beragama. Masjid bukan lagi sekadar tempat mencari keridhaan Tuhan, melainkan menjadi simbol kebanggaan kelompok, prestise daerah, atau legitimasi kekuasaan politik tertentu. Kiamat kecil hadir dalam bentuk disfungsi fungsi sosial dan spiritual masjid yang tertutup oleh kemilau arsitektur.
Sepinya Ruh di Balik Dinding MewahLiteratur eskatologi dalam naskah IslamHouse tahun 2009 tersebut mengingatkan bahwa salah satu indikator kiamat adalah ketika masjid-masjid dibangun dengan megah, namun kosong dari petunjuk. Fenomena ini beriringan dengan banyaknya manusia yang datang ke masjid hanya untuk mengagumi keindahannya, berfoto, atau sekadar urusan keduniawian, namun hati mereka jauh dari kekhusyukan.
Peringatan Ibnu Abbas tersebut menjadi cermin bagi realitas hari ini. Kita menyaksikan anggaran pembangunan masjid yang fantastis sering kali berbanding terbalik dengan anggaran untuk pendidikan guru mengaji atau santunan fakir miskin di sekitarnya. Kemegahan luar menjadi kompensasi atas keroposnya fondasi iman dan akhlak masyarakatnya.
Secara eskatologis, keberadaan masjid yang berhias indah namun sepi dari jamaah yang shalih adalah indikator kuat bahwa rasa takut kepada Tuhan telah digantikan oleh kecintaan pada pujian manusia. ‘Awadh bin ‘Ali mengajak kita merenung: apakah dinding-dinding marmer itu mampu menolong kita di akhir zaman jika di dalamnya tidak ada doa yang tulus?
Kesimpulannya, narasi tentang menghias masjid ini adalah peringatan agar kita kembali pada esensi. Kiamat sedang mendekat melalui pintu-pintu masjid yang dipimpin oleh orang-orang yang lebih mementingkan citra daripada jiwa, melalui menara-menara tinggi yang gagal memancarkan cahaya kebenaran, dan melalui hilangnya kejujuran dalam beribadah di tengah kemewahan duniawi.
(mif)