home masjid

Tanda-Tanda Kiamat: Gedung Pencakar Langit Menjadi Standar Baru Kehormatan dan Kemewahan

Senin, 02 Februari 2026 - 16:49 WIB
Jika dulu para penggembala domba hanya memikirkan rumput dan ternaknya, kini merekadan kita semuaterjebak dalam labirin beton yang menuntut pengakuan dunia. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Wajah kota-kota di dunia, terutama di kawasan jazirah yang dahulu gersang, telah berubah total dalam beberapa dekade terakhir. Pasir gurun yang dahulu hanya diinjak oleh kaki-kaki telanjang para pengembara, kini tertutup oleh beton-beton raksasa yang mencoba mencakar langit. Namun, bagi para pengkaji eskatologi Islam, fenomena ini bukan sekadar keberhasilan arsitektur atau pertumbuhan ekonomi makro. Ini adalah sebuah anomali sejarah yang telah diprediksi empat belas abad silam sebagai salah satu penanda transisi menuju akhir sejarah.

‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebutfenomena meningginya bangunan menjadi sorotan penting. Laporan yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah ini memandang kompetisi vertikal ini sebagai pergeseran nilai kemanusiaan yang mendalam. Kemajuan fisik yang spektakuler ini sering kali berbanding terbalik dengan kedalaman nilai-nilai spiritual yang dianut oleh pelakunya.

Dasar dari interpretasi ini berpijak pada hadits Jibril yang sangat masyhur, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai tanda-tanda kiamat, beliau memberikan gambaran sosiologis yang sangat presisi:

وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِى الْبُنْيَانِ

Artinya: Dan bahwa engkau akan menyaksikan orang yang bertelanjang kaki dan badan, lagi miskin yang mengembala domba, berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Lompatan Kelas dan Disorientasi Nilai

Analisis ‘Awadh bin ‘Ali ini membawa kita pada sebuah tesis tentang lompatan kelas sosial yang drastis. Kaum yang digambarkan sebagai al-hufah al-urah (bertelanjang kaki dan badan) merujuk pada masyarakat Badui atau pedalaman yang secara ekonomi berada di garis bawah. Namun, melalui sumber daya alam atau perubahan politik, mereka tiba-tiba memiliki akses terhadap kekayaan luar biasa.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya