Proyek "New Gaza": Ambisi Kemanusiaan atau Ladang Bisnis Baru Imperium Donald Trump?
Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Rencana pembangunan kembali Gaza pasca-konflik kini menjadi sorotan dunia. Namun, di balik narasi pemulihan dan bantuan kemanusiaan, terselip pertanyaan besar mengenai motif ekonomi yang menggerakkan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kendali Donald Trump. Sebagai sosok yang lebih dahulu dikenal sebagai taipan properti sebelum menjadi politisi, sulit memisahkan naluri bisnis Trump dari keputusan politiknya.
Strategi "Business First" di Panggung Geopolitik
Kekayaan Donald Trump yang mencapai puluhan triliun rupiah bukan sekadar angka di atas kertas. Kerajaan bisnisnya yang menggurita—mulai dari konstruksi, hotel, hingga teknologi—memang secara administratif dikelola oleh anak-anaknya, namun intuisi bisnis Trump tidak pernah benar-benar pensiun.
Pola ini terlihat jelas dalam sejarah kebijakan luar negerinya. Upaya penekanan terhadap rezim Maduro di Venezuela atau ketegangan dengan Iran sejatinya adalah perang kendali atas sumber daya minyak. Tujuannya satu: memastikan dominasi energi Amerika tetap kokoh di tengah bayang-bayang China yang semakin mengancam.
Perlombaan Melawan Hegemoni China