Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Rencana pembangunan kembali Gaza pasca-konflik kini menjadi sorotan dunia. Namun, di balik narasi pemulihan dan bantuan kemanusiaan, terselip pertanyaan besar mengenai motif ekonomi yang menggerakkan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kendali Donald Trump. Sebagai sosok yang lebih dahulu dikenal sebagai taipan properti sebelum menjadi politisi, sulit memisahkan naluri bisnis Trump dari keputusan politiknya.
Strategi "Business First" di Panggung Geopolitik
Kekayaan Donald Trump yang mencapai puluhan triliun rupiah bukan sekadar angka di atas kertas. Kerajaan bisnisnya yang menggurita—mulai dari konstruksi, hotel, hingga teknologi—memang secara administratif dikelola oleh anak-anaknya, namun intuisi bisnis Trump tidak pernah benar-benar pensiun.
Pola ini terlihat jelas dalam sejarah kebijakan luar negerinya. Upaya penekanan terhadap rezim Maduro di Venezuela atau ketegangan dengan Iran sejatinya adalah perang kendali atas sumber daya minyak. Tujuannya satu: memastikan dominasi energi Amerika tetap kokoh di tengah bayang-bayang China yang semakin mengancam.
Perlombaan Melawan Hegemoni China
Amerika Serikat saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Meskipun masih memimpin dengan PDB di atas $30,6 triliun pada 2025, laju pertumbuhan ekonomi Paman Sam mulai melambat dibandingkan China yang terus melesat dengan pertumbuhan di angka 5%.
Prediksi dari PricewaterhouseCoopers (PwC) memberikan alarm keras: China berpotensi menyalip Amerika sebelum 2030, dan pada 2050, posisi Amerika bahkan terancam merosot ke peringkat ketiga di bawah India. Dalam konteks inilah, setiap jengkal peluang ekonomi baru, termasuk pembangunan kembali Gaza, menjadi sangat krusial bagi Amerika untuk mempertahankan statusnya sebagai pemimpin ekonomi global.
Siapa yang Benar-Benar Diuntungkan di Gaza?
Gaza yang luluh lantak membutuhkan investasi kolosal untuk membangun kembali infrastruktur dan permukiman. Rencana pembentukan dewan perdamaian untuk menghimpun dana internasional memang terlihat sebagai solusi kolektif. Namun, jika ditelaah lebih dalam, ada skenario yang sangat menguntungkan pihak tertentu:
Pembangunan kembali Gaza bukan sekadar proyek rekonstruksi kota, melainkan arena pertarungan ekonomi global. Di bawah kepemimpinan yang berjiwa pengusaha, bantuan kemanusiaan bisa dengan mudah bertransformasi menjadi kontrak bisnis yang menguntungkan imperium properti Amerika. Di tengah persaingan sengit dengan China, Gaza hanyalah bidak lain dalam papan catur ekonomi dunia yang sedang dimainkan oleh Donald Trump. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, serta Wakil Ketua Umum MUI)
