Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 03 Februari 2026
home global news detail berita

Proyek New Gaza: Ambisi Kemanusiaan atau Ladang Bisnis Baru Imperium Donald Trump?

tim langit 7 Selasa, 03 Februari 2026 - 09:28 WIB
Proyek New Gaza: Ambisi Kemanusiaan atau Ladang Bisnis Baru Imperium Donald Trump?

Oleh: Anwar Abbas

LANGIT7.ID-
Rencana pembangunan kembali Gaza pasca-konflik kini menjadi sorotan dunia. Namun, di balik narasi pemulihan dan bantuan kemanusiaan, terselip pertanyaan besar mengenai motif ekonomi yang menggerakkan kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kendali Donald Trump. Sebagai sosok yang lebih dahulu dikenal sebagai taipan properti sebelum menjadi politisi, sulit memisahkan naluri bisnis Trump dari keputusan politiknya.

Strategi "Business First" di Panggung Geopolitik

Kekayaan Donald Trump yang mencapai puluhan triliun rupiah bukan sekadar angka di atas kertas. Kerajaan bisnisnya yang menggurita—mulai dari konstruksi, hotel, hingga teknologi—memang secara administratif dikelola oleh anak-anaknya, namun intuisi bisnis Trump tidak pernah benar-benar pensiun.

Pola ini terlihat jelas dalam sejarah kebijakan luar negerinya. Upaya penekanan terhadap rezim Maduro di Venezuela atau ketegangan dengan Iran sejatinya adalah perang kendali atas sumber daya minyak. Tujuannya satu: memastikan dominasi energi Amerika tetap kokoh di tengah bayang-bayang China yang semakin mengancam.

Perlombaan Melawan Hegemoni China

Amerika Serikat saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Meskipun masih memimpin dengan PDB di atas $30,6 triliun pada 2025, laju pertumbuhan ekonomi Paman Sam mulai melambat dibandingkan China yang terus melesat dengan pertumbuhan di angka 5%.

Prediksi dari PricewaterhouseCoopers (PwC) memberikan alarm keras: China berpotensi menyalip Amerika sebelum 2030, dan pada 2050, posisi Amerika bahkan terancam merosot ke peringkat ketiga di bawah India. Dalam konteks inilah, setiap jengkal peluang ekonomi baru, termasuk pembangunan kembali Gaza, menjadi sangat krusial bagi Amerika untuk mempertahankan statusnya sebagai pemimpin ekonomi global.

Siapa yang Benar-Benar Diuntungkan di Gaza?

Gaza yang luluh lantak membutuhkan investasi kolosal untuk membangun kembali infrastruktur dan permukiman. Rencana pembentukan dewan perdamaian untuk menghimpun dana internasional memang terlihat sebagai solusi kolektif. Namun, jika ditelaah lebih dalam, ada skenario yang sangat menguntungkan pihak tertentu:

  1. Pendanaan Internasional, Keuntungan Lokal: Negara-negara anggota dewan perdamaian mungkin akan menjadi penyumbang dana utama, namun kontrak-kontrak raksasa kemungkinan besar akan jatuh ke tangan korporasi properti dan konstruksi asal Amerika Serikat.
  2. Ekspansi Bisnis Trump: Perusahaan milik Trump, dengan spesialisasi di bidang real estate dan hotel mewah, berada di posisi strategis untuk "mencicipi" kue pembangunan ini jika kondisi politik memungkinkan.
  3. Politik Pujian: Negara-negara donor mungkin mendapatkan pengakuan diplomatik atau pujian dari Gedung Putih, tetapi keuntungan materiil dan perputaran ekonomi yang masif tetap mengalir kembali ke Washington.


Pembangunan kembali Gaza bukan sekadar proyek rekonstruksi kota, melainkan arena pertarungan ekonomi global. Di bawah kepemimpinan yang berjiwa pengusaha, bantuan kemanusiaan bisa dengan mudah bertransformasi menjadi kontrak bisnis yang menguntungkan imperium properti Amerika. Di tengah persaingan sengit dengan China, Gaza hanyalah bidak lain dalam papan catur ekonomi dunia yang sedang dimainkan oleh Donald Trump. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, serta Wakil Ketua Umum MUI)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 03 Februari 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
12:10
Ashar
15:28
Maghrib
18:20
Isya
19:32
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan