Kiamat Sudah Dekat: Epidemi Egoisme dan Mengeringnya Sumur Kedermawanan
Miftah yusufpati
Selasa, 03 Februari 2026 - 17:00 WIB
Kiamat sedang mendekat melalui tangan-tangan yang mengepal erat, melalui hati yang tak lagi bergetar melihat kemiskinan, dan melalui hilangnya rasa cukup dalam jiwa. Ilustrasi AI
LANGIT7.ID-Di tengah kemajuan sistem ekonomi global yang menjanjikan kemudahan akses materi, sebuah ironi psikologis justru sedang menjangkiti manusia modern. Di balik angka pertumbuhan dan kemewahan yang terpampang di etalase digital, tersimpan kecemasan luar biasa akan kekurangan. Manusia kian protektif terhadap apa yang dimilikinya, seolah setiap sen yang keluar adalah ancaman bagi eksistensi dirinya. Dalam diskursus eskatologi Islam, fenomena ini tidak dilihat sebagai sekadar perilaku hemat, melainkan sebuah penyakit hati sistemik yang disebut sebagai asy-syuhhu atau kekikiran yang mendarah daging.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebut, kekikiran diletakkan sebagai salah satu indikator kunci keruntuhan tatanan sosial di ujung zaman. Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah membedah bagaimana rasa kikir bukan lagi sifat individual, melainkan suasana batin kolektif yang sengaja dilemparkan ke tengah masyarakat.
Pijakan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ
Artinya: Zaman semakin berdekatan, amal berkurang, dan kekikiran dilemparkan ke dalam hati.
Mekanisme Kekikiran yang Dilemparkan
Penggunaan diksi yulqa (dilemparkan) dalam teks tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa kekikiran ini akan merata, merasuk ke dalam jiwa manusia dengan begitu kuatnya sehingga empati menjadi barang langka. Secara sosiologis, kita melihat hal ini dalam bentuk individualisme ekstrem. Seseorang tidak lagi peduli apakah tetangganya lapar atau kerabatnya kesusahan, selama tumpukan aset pribadinya tetap aman.
‘Awadh bin ‘Ali bin ‘Abdullah dalam buku Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menyebut, kekikiran diletakkan sebagai salah satu indikator kunci keruntuhan tatanan sosial di ujung zaman. Naskah yang diterbitkan melalui Maktab Dakwah Rabwah membedah bagaimana rasa kikir bukan lagi sifat individual, melainkan suasana batin kolektif yang sengaja dilemparkan ke tengah masyarakat.
Pijakan nubuat ini bersumber dari riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ وَيُلْقَى الشُّحُّ
Artinya: Zaman semakin berdekatan, amal berkurang, dan kekikiran dilemparkan ke dalam hati.
Mekanisme Kekikiran yang Dilemparkan
Penggunaan diksi yulqa (dilemparkan) dalam teks tersebut mengandung makna yang sangat mendalam. ‘Awadh bin ‘Ali dalam naskah yang diterjemahkan oleh Muh. Khairuddin Rendusara menekankan bahwa kekikiran ini akan merata, merasuk ke dalam jiwa manusia dengan begitu kuatnya sehingga empati menjadi barang langka. Secara sosiologis, kita melihat hal ini dalam bentuk individualisme ekstrem. Seseorang tidak lagi peduli apakah tetangganya lapar atau kerabatnya kesusahan, selama tumpukan aset pribadinya tetap aman.