Sinergi Kementerian Kebudayaan dan Universitas Nasional Lestarikan Warisan Sutan Takdir Alisjahbana
Tim langit 7
Jum'at, 06 Februari 2026 - 20:17 WIB
Sinergi Kementerian Kebudayaan dan Universitas Nasional Lestarikan Warisan Sutan Takdir Alisjahbana
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan pertemuan strategis dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto dan Rektor Universitas Nasional, Dr. El Amry Bermawi Putera di Gedung D Kemdiktisaintek, Senayan, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas penjajakan kerja sama antarlembaga di bidang pendidikan dan kebudayaan antara Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi serta Universitas Nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Fadli menegaskan bahwa Universitas Nasional (UNAS) merupakan institusi yang memiliki keterikatan historis yang sangat kuat dengan kebudayaan, mengingat universitas tersebut didirikan oleh tokoh budayawan dan sastrawan besar, Sutan Takdir Alisjahbana, seorang pemikir budaya yang sangat berpengaruh bagi bangsa.
“Universitas Nasional ini adalah institusi yang sangat dekat dengan kebudayaan karena didirikan oleh Sutan Takdir Alisjahbana tahun 1949. Cikal bakalnya tahun 1945, tapi resminya tahun 1949. Jadi secara institusi resmi, UNAS mungkin kedua sebagai universitas swasta yang berdiri setelah Universitas Islam Indonesia. UNAS bagi saya bersejarah, karena salah satu budayawan, seniman, sastrawan yang mendirikan universitas ini adalah Sutan Takdir Alisjahbana,” imbuh Menteri Fadli dalam keterangan resmi, Jumat (6/2/2026).
Menteri Kebudayaan juga mengungkapkan bahwa bidang sejarah kini menjadi salah satu perhatian utama Presiden Prabowo Subianto, sehingga diperlukan penyerapan tenaga kerja bagi lulusan sejarah agar dapat bekerja sesuai dengan keahlian dan peminatannya masing-masing. Penguatan aspek kesejarahan, lanjut Menbud, merupakan sebuah prioritas agar lulusan di bidang sejarah memiliki ruang kontribusi yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Bidang sejarah ini menjadi salah satu concern atau perhatian dari Pak Presiden. Sebagai contoh, kalau lulusan teknik sering direkrut perusahaan-perusahaan. Seharusnya itu juga bisa dilakukan untuk lulusan sejarah. Kebutuhan sejarah itu harus menjadi salah satu hal yang bisa kita kuatkan kembali,” ucap Menteri Fadli.
Lebih jauh, Menteri Fadli turut mendorong pelaksanaan konferensi sejarah nasional tahunan dengan melibatkan para akademisi serta pakar di bidangnya untuk memperkuat narasi Indonesia sebagai pusat ilmu, budaya, dan peradaban.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, turut menekankan pentingnya melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam berbagai program khususnya isu politik dan pelestarian kebudayaan. Ia menambahkan, “Kami tentu berharap, perguruan tinggi seperti UNAS semakin berkembang dan bersinergi bersama kementerian-kementerian lain. Kita juga bisa melibatkan partisipasi mahasiswa, karena generasi sekarang semakin tertarik kepada politik dan kebudayaan.”
Dalam pertemuan tersebut, Menteri Fadli menegaskan bahwa Universitas Nasional (UNAS) merupakan institusi yang memiliki keterikatan historis yang sangat kuat dengan kebudayaan, mengingat universitas tersebut didirikan oleh tokoh budayawan dan sastrawan besar, Sutan Takdir Alisjahbana, seorang pemikir budaya yang sangat berpengaruh bagi bangsa.
“Universitas Nasional ini adalah institusi yang sangat dekat dengan kebudayaan karena didirikan oleh Sutan Takdir Alisjahbana tahun 1949. Cikal bakalnya tahun 1945, tapi resminya tahun 1949. Jadi secara institusi resmi, UNAS mungkin kedua sebagai universitas swasta yang berdiri setelah Universitas Islam Indonesia. UNAS bagi saya bersejarah, karena salah satu budayawan, seniman, sastrawan yang mendirikan universitas ini adalah Sutan Takdir Alisjahbana,” imbuh Menteri Fadli dalam keterangan resmi, Jumat (6/2/2026).
Menteri Kebudayaan juga mengungkapkan bahwa bidang sejarah kini menjadi salah satu perhatian utama Presiden Prabowo Subianto, sehingga diperlukan penyerapan tenaga kerja bagi lulusan sejarah agar dapat bekerja sesuai dengan keahlian dan peminatannya masing-masing. Penguatan aspek kesejarahan, lanjut Menbud, merupakan sebuah prioritas agar lulusan di bidang sejarah memiliki ruang kontribusi yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Bidang sejarah ini menjadi salah satu concern atau perhatian dari Pak Presiden. Sebagai contoh, kalau lulusan teknik sering direkrut perusahaan-perusahaan. Seharusnya itu juga bisa dilakukan untuk lulusan sejarah. Kebutuhan sejarah itu harus menjadi salah satu hal yang bisa kita kuatkan kembali,” ucap Menteri Fadli.
Lebih jauh, Menteri Fadli turut mendorong pelaksanaan konferensi sejarah nasional tahunan dengan melibatkan para akademisi serta pakar di bidangnya untuk memperkuat narasi Indonesia sebagai pusat ilmu, budaya, dan peradaban.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, turut menekankan pentingnya melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam berbagai program khususnya isu politik dan pelestarian kebudayaan. Ia menambahkan, “Kami tentu berharap, perguruan tinggi seperti UNAS semakin berkembang dan bersinergi bersama kementerian-kementerian lain. Kita juga bisa melibatkan partisipasi mahasiswa, karena generasi sekarang semakin tertarik kepada politik dan kebudayaan.”