Pakar Teologi Sebut Puasa Sebagai Instrumen Revolusi Karakter dan Kedaulatan Diri
Miftah yusufpati
Rabu, 11 Februari 2026 - 05:15 WIB
Di balik setiap teguk air saat berbuka, ada kedaulatan yang baru saja direbut kembali. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Perubahan adalah komoditas paling mahal dalam narasi pengembangan diri manusia. Ribuan buku motivasi ditulis hanya untuk menjawab satu pertanyaan purba: bagaimana seseorang bisa berhenti menjadi budak bagi kebiasaannya sendiri? Dalam kacamata teologi Islam, jawaban itu tidak ditemukan dalam ruang seminar yang nyaman, melainkan dalam rasa perih di lambung yang terjaga sejak fajar hingga senja.
Puasa, dalam esensinya yang paling mendalam, adalah sebuah metode yang mantap untuk melakukan perubahan. Pandangan ini diulas secara tajam dalam buku Meraih Puasa Sempurna, sebuah karya yang diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar. Dalam naskah yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir tersebut, Ath-Thayyar membedah bagaimana lapar fungsional menjadi instrumen bagi seorang muslim untuk melakukan rekayasa ulang pada karakternya.
Logika yang dibangun oleh Dr. Ath-Thayyar cukup sederhana namun provokatif: puasa adalah sarana menyiapkan kekuatan agar manusia mampu mengendalikan dirinya sendiri. Selama belasan jam setiap hari, seorang muslim berlatih menahan diri dari hal-hal yang paling ia sukai dan cintai—makan, minum, dan pemenuhan biologis. Di sinilah letak revolusi itu. Ketika dorongan nafsu menuntut pemuasan, sang hamba belajar berdiri tegak dan mengatakan: Tidak.
Dalam perspektif Ath-Thayyar, kata tidak adalah kunci kehormatan. Keberhasilan seorang muslim untuk tidak tunduk pada desakan syahwat dan ketamakan adalah sebuah kemenangan politik atas diri sendiri. Ia bukan lagi sekadar makhluk biologis yang digerakkan oleh insting, melainkan subjek yang memegang kendali penuh atas kemauan jiwanya.
Interpretasi ini membawa kita pada klasifikasi manusia dalam berhadapan dengan keinginan. Mereka yang enggan atau gagal berpuasa, menurut Ath-Thayyar, sering kali terjebak dalam kondisi sebagai budak yang hina. Mereka selalu tunduk pada gejolak jiwa dan syahwatnya sendiri. Bahkan, ia memberikan kritik pedas dengan menyebut kondisi tersebut lebih buruk daripada perbudakan antarmanusia, karena pelakunya secara sukarela menyerahkan lehernya pada tali kendali keinginan yang rendah.
Antara Kedermawanan dan Keberanian
Dr. Ath-Thayyar juga menyitir sebuah syair yang memberikan konteks sosial pada beratnya perjuangan melakukan perubahan diri:
Puasa, dalam esensinya yang paling mendalam, adalah sebuah metode yang mantap untuk melakukan perubahan. Pandangan ini diulas secara tajam dalam buku Meraih Puasa Sempurna, sebuah karya yang diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar. Dalam naskah yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir tersebut, Ath-Thayyar membedah bagaimana lapar fungsional menjadi instrumen bagi seorang muslim untuk melakukan rekayasa ulang pada karakternya.
Logika yang dibangun oleh Dr. Ath-Thayyar cukup sederhana namun provokatif: puasa adalah sarana menyiapkan kekuatan agar manusia mampu mengendalikan dirinya sendiri. Selama belasan jam setiap hari, seorang muslim berlatih menahan diri dari hal-hal yang paling ia sukai dan cintai—makan, minum, dan pemenuhan biologis. Di sinilah letak revolusi itu. Ketika dorongan nafsu menuntut pemuasan, sang hamba belajar berdiri tegak dan mengatakan: Tidak.
Dalam perspektif Ath-Thayyar, kata tidak adalah kunci kehormatan. Keberhasilan seorang muslim untuk tidak tunduk pada desakan syahwat dan ketamakan adalah sebuah kemenangan politik atas diri sendiri. Ia bukan lagi sekadar makhluk biologis yang digerakkan oleh insting, melainkan subjek yang memegang kendali penuh atas kemauan jiwanya.
Interpretasi ini membawa kita pada klasifikasi manusia dalam berhadapan dengan keinginan. Mereka yang enggan atau gagal berpuasa, menurut Ath-Thayyar, sering kali terjebak dalam kondisi sebagai budak yang hina. Mereka selalu tunduk pada gejolak jiwa dan syahwatnya sendiri. Bahkan, ia memberikan kritik pedas dengan menyebut kondisi tersebut lebih buruk daripada perbudakan antarmanusia, karena pelakunya secara sukarela menyerahkan lehernya pada tali kendali keinginan yang rendah.
Antara Kedermawanan dan Keberanian
Dr. Ath-Thayyar juga menyitir sebuah syair yang memberikan konteks sosial pada beratnya perjuangan melakukan perubahan diri: