Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 14 Maret 2026
home masjid detail berita

Pakar Teologi Sebut Puasa Sebagai Instrumen Revolusi Karakter dan Kedaulatan Diri

miftah yusufpati Rabu, 11 Februari 2026 - 05:15 WIB
Pakar Teologi Sebut Puasa Sebagai Instrumen Revolusi Karakter dan Kedaulatan Diri
Di balik setiap teguk air saat berbuka, ada kedaulatan yang baru saja direbut kembali. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Perubahan adalah komoditas paling mahal dalam narasi pengembangan diri manusia. Ribuan buku motivasi ditulis hanya untuk menjawab satu pertanyaan purba: bagaimana seseorang bisa berhenti menjadi budak bagi kebiasaannya sendiri? Dalam kacamata teologi Islam, jawaban itu tidak ditemukan dalam ruang seminar yang nyaman, melainkan dalam rasa perih di lambung yang terjaga sejak fajar hingga senja.

Puasa, dalam esensinya yang paling mendalam, adalah sebuah metode yang mantap untuk melakukan perubahan. Pandangan ini diulas secara tajam dalam buku Meraih Puasa Sempurna, sebuah karya yang diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab oleh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar. Dalam naskah yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir tersebut, Ath-Thayyar membedah bagaimana lapar fungsional menjadi instrumen bagi seorang muslim untuk melakukan rekayasa ulang pada karakternya.

Logika yang dibangun oleh Dr. Ath-Thayyar cukup sederhana namun provokatif: puasa adalah sarana menyiapkan kekuatan agar manusia mampu mengendalikan dirinya sendiri. Selama belasan jam setiap hari, seorang muslim berlatih menahan diri dari hal-hal yang paling ia sukai dan cintai—makan, minum, dan pemenuhan biologis. Di sinilah letak revolusi itu. Ketika dorongan nafsu menuntut pemuasan, sang hamba belajar berdiri tegak dan mengatakan: Tidak.

Dalam perspektif Ath-Thayyar, kata tidak adalah kunci kehormatan. Keberhasilan seorang muslim untuk tidak tunduk pada desakan syahwat dan ketamakan adalah sebuah kemenangan politik atas diri sendiri. Ia bukan lagi sekadar makhluk biologis yang digerakkan oleh insting, melainkan subjek yang memegang kendali penuh atas kemauan jiwanya.

Interpretasi ini membawa kita pada klasifikasi manusia dalam berhadapan dengan keinginan. Mereka yang enggan atau gagal berpuasa, menurut Ath-Thayyar, sering kali terjebak dalam kondisi sebagai budak yang hina. Mereka selalu tunduk pada gejolak jiwa dan syahwatnya sendiri. Bahkan, ia memberikan kritik pedas dengan menyebut kondisi tersebut lebih buruk daripada perbudakan antarmanusia, karena pelakunya secara sukarela menyerahkan lehernya pada tali kendali keinginan yang rendah.

Antara Kedermawanan dan Keberanian

Dr. Ath-Thayyar juga menyitir sebuah syair yang memberikan konteks sosial pada beratnya perjuangan melakukan perubahan diri:

Kalau bukan karena kesulitan, niscaya umat manusia ini secara keseluruhan akan menjadi terhormat. Kedermawanan semakin langka, dan keberanian berarti perang.

Syair ini menegaskan bahwa kemuliaan bukanlah hadiah gratis. Ia adalah produk dari kesulitan (al-masyaqqah). Puasa menyediakan laboratorium kesulitan tersebut. Tanpa adanya latihan menahan diri, kedermawanan hanya akan menjadi angan-angan karena manusia akan selalu cenderung menumpuk harta untuk memuaskan ketamakannya. Begitu pula keberanian, ia memerlukan kekuatan mental untuk menghadapi rasa takut dan sakit, yang akarnya dilatih melalui keteguhan menahan lapar.

Secara interpretatif, puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan sebuah aksi kudeta terhadap penguasa nafsu dalam diri. Dengan mengikuti ritme ibadah ini, seorang muslim sedang menanam benih perubahan yang substansial. Ia belajar bahwa untuk mengubah dunia di luar, seseorang harus lebih dulu mampu memenangkan pertempuran di dalam piringnya sendiri.

Pesan yang dibawa oleh karya Dr. Ath-Thayyar ini sangat jernih bagi kita di Jakarta pada Februari 2026: bahwa di balik setiap teguk air saat berbuka, ada kedaulatan yang baru saja direbut kembali. Perubahan sejati dimulai ketika perut kosong, namun tekad penuh.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 14 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:05
Ashar
15:11
Maghrib
18:09
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)