Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Hal serupa juga dijalani umat Muslim di Turki, Oman, Singapura, dan Australia yang akan mulai berpuasa pada Kamis, besok.
Ketika alam menutup pandangan mata terhadap hilal, Islam memberikan kepastian hukum melalui metode penyempurnaan bilangan bulan Syaban menjadi tiga puluh hari guna menjaga validitas ibadah umat.
Kepastian ibadah puasa dan Idul Fitri bergantung pada kemunculan sabit muda. Syariat Islam mengedepankan kesaksian kasat mata sebagai metode yang memudahkan umat tanpa beban kerumitan teknis.
Puasa bukan sekadar ritual menahan lapar, melainkan kawah candradimuka bagi perbaikan jiwa dan fisik, sekaligus kunci pembuka pintu surga yang eksklusif bagi mereka yang mampu menjaga kesabaran.
Puasa terbukti secara ilmiah dan medis mampu memperbaharui sel tubuh serta mengistirahatkan organ pencernaan. Selain kesehatan fisik, puasa menjadi sarana detoksifikasi mental dari penyakit sosial.
Menimbang fatwa Ibnu Taimiyah dan Al-Albani tentang urgensi keseragaman puasa demi menghindari perpecahan sosial di tengah perbedaan metode rukyah dan penglihatan individu.
Melalui konsep muraqabah, ibadah puasa dinilai efektif membangun sistem pengawasan diri yang mampu menangkal praktik korupsi, penipuan, hingga krisis moral di tengah masyarakat luas.
Melampaui ritual fisik, ibadah puasa dinilai sebagai metode radikal untuk membangun ketangguhan mental masyarakat serta menjadi benteng kedaulatan negara dari ancaman keterbelakangan dan agresi.
Melalui ijtihad mental dan kendali atas kebutuhan biologis, puasa dinilai sebagai metode transformasi paling efektif bagi umat Islam untuk memutus rantai perbudakan hawa nafsu.
Ibadah puasa ditegaskan bukan sekadar ritual fisik, melainkan sistem pengendalian diri yang mampu membentengi manusia dari praktik suap, riba, hingga perilaku destruktif di tengah masyarakat.
Syaikh Bin Baz menekankan pentingnya persatuan umat dalam memulai dan mengakhiri puasa. Ketaatan pada otoritas setempat menjadi kunci, meski harus menelan lapar lebih lama dari hitungan bulan biasanya.
Di wilayah dengan siang yang membentang hampir sepanjang hari, syariat memberikan ruang antara keteguhan fisik dan fleksibilitas ijtihad guna menjaga napas ibadah tetap menyala dalam keterbatasan.