Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 13 Maret 2026
home masjid detail berita

Pakar Teologi Tegaskan Puasa Sebagai Instrumen Ketahanan Bangsa dan Penggerak Dinamika Sosial

miftah yusufpati Rabu, 11 Februari 2026 - 16:00 WIB
Pakar Teologi Tegaskan Puasa Sebagai Instrumen Ketahanan Bangsa dan Penggerak Dinamika Sosial
Kekuatan keinginan yang telah dibangun dengan susah payah sepanjang siang jangan sampai dihancurkan sendiri saat waktu berbuka tiba. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di tengah hiruk pikuk dunia yang menawarkan kepuasan instan, manusia modern sering kali terjebak dalam krisis kemauan. Fokus pecah, niat mudah goyah, dan disiplin menjadi barang mewah. Namun, jauh sebelum literatur pengembangan diri populer membanjiri rak buku, Islam telah memperkenalkan sebuah metode radikal untuk merebut kembali kedaulatan diri: puasa.

Dalam kitab Meraih Puasa Sempurna, yang merupakan terjemahan dari naskah Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar, puasa dipandang bukan sekadar urusan perut. Ia adalah laboratorium untuk memperkuat keinginan, mendorong kemauan, dan mengajarkan kesabaran. Menurut Ath-Thayyar, lapar yang dikelola dengan kesadaran mampu menjernihkan pikiran dan menghidupkan pemikiran yang cerdas.

Efeknya tak berhenti di ruang privat. Seseorang yang memiliki keinginan kuat hasil tempaan puasa akan memiliki nyali untuk menghadapi anomali sosial. Ia sanggup mengatakan kepada pelaku kemunkaran, Ini munkar. Di sinilah puasa bertransformasi dari sekadar ibadah ritual menjadi gerakan sosial. Individu tersebut menjadi anggota masyarakat yang dinamis, yang membangun alih-alih merusak, dan melakukan perbaikan alih-alih penghancuran.

Skalanya bahkan bisa meluas hingga level kenegaraan. Ath-Thayyar berargumen bahwa bangsa yang memiliki keinginan besar tidak akan membiarkan agresor atau penjajah menginjakkan kaki di tanahnya. Kekuatan mental yang lahir dari kemampuan menahan diri adalah senjata utama dalam melawan kebodohan, keterbelakangan, hingga syahwat kekuasaan yang tak terkendali.

Pandangan ini diperkuat oleh Syaikh ad-Dausari. Beliau menyebut bahwa membangun keinginan yang kuat di dalam diri bukanlah perkara remeh. Jika organisasi modern dan kalangan militer hari ini bersusah payah merumuskan metode untuk membangun ketangguhan mental, Islam telah mendahului mereka empat belas abad yang lalu. Perintah untuk berjuang melawan rasa sakit akibat lapar dan haus sejatinya adalah latihan ketangguhan tingkat tinggi.

Hal ini selaras dengan pesan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 153 yang menekankan pentingnya kesabaran sebagai penolong:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu; sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Dalam berbagai literatur klasik, seperti Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, puasa juga disebut sebagai cara untuk mematahkan dua syahwat utama, yakni perut dan kemaluan, yang sering menjadi akar dari lemahnya keinginan manusia. Dengan mengendalikan syahwat tersebut, kemauan spiritual justru mendapatkan ruang untuk tumbuh perkasa.

Namun, ada catatan kritis yang ditinggalkan Dr. Ath-Thayyar bagi kita semua. Kekuatan keinginan yang telah dibangun dengan susah payah sepanjang siang jangan sampai dihancurkan sendiri saat waktu berbuka tiba. Sering kali, kegagalan mengendalikan diri di meja makan saat maghrib justru menghina dan mengucilkan kekuatan keinginan yang sudah susah payah dikumpulkan. Malam hari seharusnya menjadi kelanjutan dari disiplin siang, bukan perayaan atas runtuhnya benteng pertahanan diri.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 13 Maret 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:06
Ashar
15:11
Maghrib
18:10
Isya
19:18
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)