Ath-Thayyar Sebut Puasa Sebagai Instrumen Audit Internal dan Penguatan Integritas Sosial
Miftah yusufpati
Rabu, 11 Februari 2026 - 16:30 WIB
Sebuah perjalanan panjang dari sekadar menahan haus menuju puncak kemuliaan budi pekerti. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Ada sebuah paradoks menarik dalam ritual menahan lapar. Di ruang paling sunyi, saat tak ada mata manusia yang melihat, seorang muslim tetap menolak setetes air yang menyentuh kerongkongannya. Tindakan ini bukan lahir dari rasa takut pada hukum negara atau sanksi sosial, melainkan dari sebuah kesadaran internal yang dalam. Inilah yang disebut sebagai bengkel penggemblengan akhlak.
Dalam diskursus keislaman, puasa dipandang sebagai laboratorium untuk membentuk manusia-manusia yang memiliki ketakwaan, kebajikan, dan kepedulian sosial. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam karyanya, Meraih Puasa Sempurna, yang diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, menjelaskan bahwa ibadah ini membangun pondasi kasih sayang dan kesabaran secara masif dalam diri pelakunya.
Salah satu rahasia terbesar puasa adalah kemampuannya membentuk muraqabah atau rasa selalu berada dalam pengawasan Allah. Ath-Thayyar menyebut bahwa dalam diri orang yang berpuasa terdapat satu penjaga umum yang bekerja dari dalam. Ia membina jiwa agar amal-amal lahiriah selalu selaras dengan nilai syariat. Jika seseorang sudah jujur pada Tuhannya dalam urusan perut, mungkinkah ia akan tega berbohong kepada sesama manusia?
Logika ini membawa kita pada sebuah kesimpulan tentang integritas. Keikhlasan, menurut Ath-Thayyar, merupakan satu bagian utuh yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Puncaknya adalah ikhlas kepada Allah. Maka, sangat mustahil bagi seorang yang tulus menjalankan puasanya untuk melakukan penipuan, kecurangan, atau pengkhianatan di tengah masyarakat. Puasa adalah faktor dasar pendalaman akhlak untuk meraih hasil akhir yang telah ditegaskan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 183:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Agar kalian bertakwa.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Dalam catatan klasik yang sering dirujuk para ulama dunia, Ibnul Qayyim menekankan bahwa puasa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh dan kekuatan batin. Ia melindungi manusia dari faktor-faktor pencemaran yang merusak jiwa. Baginya, jika pencemaran nafsu sudah menguasai diri, maka manusia itu akan rusak secara sistemik.
Dalam diskursus keislaman, puasa dipandang sebagai laboratorium untuk membentuk manusia-manusia yang memiliki ketakwaan, kebajikan, dan kepedulian sosial. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayyar dalam karyanya, Meraih Puasa Sempurna, yang diterjemahkan dari kitab Ash-Shiyaam, Ahkaam wa Aa-daab, menjelaskan bahwa ibadah ini membangun pondasi kasih sayang dan kesabaran secara masif dalam diri pelakunya.
Salah satu rahasia terbesar puasa adalah kemampuannya membentuk muraqabah atau rasa selalu berada dalam pengawasan Allah. Ath-Thayyar menyebut bahwa dalam diri orang yang berpuasa terdapat satu penjaga umum yang bekerja dari dalam. Ia membina jiwa agar amal-amal lahiriah selalu selaras dengan nilai syariat. Jika seseorang sudah jujur pada Tuhannya dalam urusan perut, mungkinkah ia akan tega berbohong kepada sesama manusia?
Logika ini membawa kita pada sebuah kesimpulan tentang integritas. Keikhlasan, menurut Ath-Thayyar, merupakan satu bagian utuh yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Puncaknya adalah ikhlas kepada Allah. Maka, sangat mustahil bagi seorang yang tulus menjalankan puasanya untuk melakukan penipuan, kecurangan, atau pengkhianatan di tengah masyarakat. Puasa adalah faktor dasar pendalaman akhlak untuk meraih hasil akhir yang telah ditegaskan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 183:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Agar kalian bertakwa.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Dalam catatan klasik yang sering dirujuk para ulama dunia, Ibnul Qayyim menekankan bahwa puasa memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam menjaga anggota tubuh dan kekuatan batin. Ia melindungi manusia dari faktor-faktor pencemaran yang merusak jiwa. Baginya, jika pencemaran nafsu sudah menguasai diri, maka manusia itu akan rusak secara sistemik.