Pakar Ungkap Mekanisme Puasa sebagai Solusi Krisis Ketenangan Jiwa di Era Modern
Miftah yusufpati
Rabu, 11 Februari 2026 - 17:00 WIB
Puasa bukan hanya soal mengosongkan perut, melainkan soal mengisi kekosongan jiwa dengan otoritas nurani. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia di dalam dada manusia tak pernah benar-benar sunyi. Ia adalah palagan abadi, tempat bertemunya dua kekuatan yang saling sikut: jiwa yang terus-menerus membisikkan kejahatan dan nurani yang merindukan kebajikan. Dalam keriuhan modernitas, suara nafsu sering kali memenangkan pengeras suara, meninggalkan kegelisahan yang tak kunjung usai. Namun, ketika Ramadhan menyapa, sebuah mekanisme gencatan senjata mulai bekerja melalui rasa lapar yang terjaga.
Persoalan ketenangan jiwa ini bukan sekadar urusan rasa, melainkan sebuah proses dialektika hukum batin yang sangat terukur. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath Thayyar dalam kitabnya, Ash Shiyaam, Ahkaam wa Aa daab yang diterjemahkan menjadi Meraih Puasa Sempurna, memotret fenomena ini dengan sangat tajam. Menurutnya, setiap kemaksiatan yang dilakukan adalah tanda dari penguasaan jiwa yang memerintah pada keburukan (an nafs al ammarah bis su). Sebaliknya, setiap upaya mendekatkan diri kepada Tuhan adalah senjata bagi jiwa yang menyeru pada kebaikan.
Puasa, dalam analisis Ath Thayyar, berfungsi untuk membangun kembali kekuasaan jiwa yang positif. Ia memperkuat kedudukan nurani agar mampu menjalankan risalahnya menjaga kedamaian internal. Ketika seseorang berpuasa, ia sedang memberikan mandat penuh kepada jiwanya untuk melakukan pengarahan melalui kecaman dan teguran keras setiap kali gangguan nafsu mencoba menjebak. Ini adalah sebuah sistem keamanan internal yang paling canggih.
Landasan dari upaya ini sering kali dirujuk oleh para ulama pada konsep penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Sebagaimana ditegaskan dalam Al Quran Surah Al Fajr ayat 27-28, muara dari ketaatan adalah lahirnya jiwa yang tenang:
يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.
Bagi Ath Thayyar, pertempuran yang bersembunyi di dalam jiwa ini akhirnya akan dimenangkan oleh kekuatan kebaikan melalui puasa. Saat kebaikan menang, sebuah rasa aman yang subtil akan menyelimuti batin. Kedamaian ini tidak berhenti di dalam, melainkan merambat ke seluruh anggota badan. Mata menjadi lebih tenang dalam memandang, tangan menjadi lebih terjaga dalam bertindak, dan lisan menjadi lebih sejuk dalam berujar. Bagian tubuh yang lain pun ikut menikmati rasa aman dan ketenangan tersebut.
Persoalan ketenangan jiwa ini bukan sekadar urusan rasa, melainkan sebuah proses dialektika hukum batin yang sangat terukur. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath Thayyar dalam kitabnya, Ash Shiyaam, Ahkaam wa Aa daab yang diterjemahkan menjadi Meraih Puasa Sempurna, memotret fenomena ini dengan sangat tajam. Menurutnya, setiap kemaksiatan yang dilakukan adalah tanda dari penguasaan jiwa yang memerintah pada keburukan (an nafs al ammarah bis su). Sebaliknya, setiap upaya mendekatkan diri kepada Tuhan adalah senjata bagi jiwa yang menyeru pada kebaikan.
Puasa, dalam analisis Ath Thayyar, berfungsi untuk membangun kembali kekuasaan jiwa yang positif. Ia memperkuat kedudukan nurani agar mampu menjalankan risalahnya menjaga kedamaian internal. Ketika seseorang berpuasa, ia sedang memberikan mandat penuh kepada jiwanya untuk melakukan pengarahan melalui kecaman dan teguran keras setiap kali gangguan nafsu mencoba menjebak. Ini adalah sebuah sistem keamanan internal yang paling canggih.
Landasan dari upaya ini sering kali dirujuk oleh para ulama pada konsep penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Sebagaimana ditegaskan dalam Al Quran Surah Al Fajr ayat 27-28, muara dari ketaatan adalah lahirnya jiwa yang tenang:
يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.
Bagi Ath Thayyar, pertempuran yang bersembunyi di dalam jiwa ini akhirnya akan dimenangkan oleh kekuatan kebaikan melalui puasa. Saat kebaikan menang, sebuah rasa aman yang subtil akan menyelimuti batin. Kedamaian ini tidak berhenti di dalam, melainkan merambat ke seluruh anggota badan. Mata menjadi lebih tenang dalam memandang, tangan menjadi lebih terjaga dalam bertindak, dan lisan menjadi lebih sejuk dalam berujar. Bagian tubuh yang lain pun ikut menikmati rasa aman dan ketenangan tersebut.