Filantropi Jadi Arus Utama Ekonomi Islam, Saudi Tegaskan di Simposium AlBaraka ke-46
Sururi al faruq
Kamis, 12 Februari 2026 - 14:01 WIB
Filantropi Jadi Arus Utama Ekonomi Islam, Saudi Tegaskan di Simposium AlBaraka ke-46
LANGIT7.ID-Madinah; Arab Saudi tidak lagi memandang filantropi sekadar sebagai kegiatan amal sampingan. Di tengah arus transformasi ekonomi Visi Saudi 2030, sektor kebajikan justru ditempatkan sebagai pilar utama pembangunan berkelanjutan dalam sistem ekonomi Islam.
Pernyataan tegas itu disampaikan Ketua Dewan Pembina AlBaraka Forum for Islamic Economy, Abdullah Saleh Kamel, dalam Simposium Ekonomi Islam AlBaraka ke-46 yang berlangsung di Universitas Prince Mugrin, Madinah, pada 9–11 Februari 2026.
"Pembangunan yang sejati dan berimbang tidak akan tercapai jika sektor kebajikan hanya diposisikan sebagai pelengkap. Filantropi harus menjadi fondasi, bukan sekadar hiasan," ujar Abdullah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.
Simposium tahunan yang mengusung tajuk “The Righteousness and Benevolence in Islamic Economy: The Future Forward” ini digelar di bawah naungan Gubernur Wilayah Madinah, Yang Mulia Pangeran Salman bin Sultan bin Abdulaziz. Pemilihan lokasi di Madinah bukan tanpa alasan: kota ini adalah saksi bisu lahirnya praktik ekonomi Islam perdana, ketika wakaf, infak, dan kebajikan pertama kali dilembagakan sebagai nilai pembangunan.
Dari Perbankan Syariah ke Ekonomi Kebajikan Terpadu
Dalam dua dekade terakhir, AlBaraka dikenal sebagai salah satu motor penggerak lahirnya instrumen keuangan syariah modern, seperti perbankan Islam dan sukuk. Namun, Abdullah menegaskan bahwa era baru membutuhkan lompatan pendekatan.
“Kita perlu meninggalkan pendekatan parsial. Jalur terpadu yang menyatukan ekonomi kebajikan, penguatan modal sosial, serta peneguhan etika dan nilai harus menjadi arsitektur baru sistem ekonomi Islam,” jelasnya.
Pernyataan tegas itu disampaikan Ketua Dewan Pembina AlBaraka Forum for Islamic Economy, Abdullah Saleh Kamel, dalam Simposium Ekonomi Islam AlBaraka ke-46 yang berlangsung di Universitas Prince Mugrin, Madinah, pada 9–11 Februari 2026.
"Pembangunan yang sejati dan berimbang tidak akan tercapai jika sektor kebajikan hanya diposisikan sebagai pelengkap. Filantropi harus menjadi fondasi, bukan sekadar hiasan," ujar Abdullah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu.
Simposium tahunan yang mengusung tajuk “The Righteousness and Benevolence in Islamic Economy: The Future Forward” ini digelar di bawah naungan Gubernur Wilayah Madinah, Yang Mulia Pangeran Salman bin Sultan bin Abdulaziz. Pemilihan lokasi di Madinah bukan tanpa alasan: kota ini adalah saksi bisu lahirnya praktik ekonomi Islam perdana, ketika wakaf, infak, dan kebajikan pertama kali dilembagakan sebagai nilai pembangunan.
Dari Perbankan Syariah ke Ekonomi Kebajikan Terpadu
Dalam dua dekade terakhir, AlBaraka dikenal sebagai salah satu motor penggerak lahirnya instrumen keuangan syariah modern, seperti perbankan Islam dan sukuk. Namun, Abdullah menegaskan bahwa era baru membutuhkan lompatan pendekatan.
“Kita perlu meninggalkan pendekatan parsial. Jalur terpadu yang menyatukan ekonomi kebajikan, penguatan modal sosial, serta peneguhan etika dan nilai harus menjadi arsitektur baru sistem ekonomi Islam,” jelasnya.