Lonjakan Penumpang MRT Jakarta Capai 46 Juta Orang Sepanjang Tahun 2025
Tim langit 7
Jum'at, 13 Februari 2026 - 10:24 WIB
Lonjakan Penumpang MRT Jakarta Capai 46 Juta Orang Sepanjang Tahun 2025
LANGIT7.ID-Jakarta; Sepanjang Januari hingga Desember 2025, PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatat total 46.449.629 pelanggan menggunakan layanan MRT Jakarta. Secara rata-rata, angka keterangkutan harian sepanjang tahun 2025 mencapai 127.259 pelanggan per hari. Capaian ini mencerminkan konsistensi pertumbuhan jumlah pelanggan serta semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik berbasis rel di Jakarta. Tren positif tersebut berlanjut pada awal tahun berikutnya.
Dilansir dari laporan MRT Jakarta, Jumat (13/2/2026), memasuki Januari 2026, PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatatkan 135.332 pelanggan setiap hari menggunakan layanan MRT Jakarta. Pada hari kerja Senin—Jumat (weekdays), angka keterangkutan telah mencapai 159.492 pelanggan per hari dan pada Sabtu—Minggu (weekend) mencapai 91.406 pelanggan per hari. Total angka keterangkutan (ridership) pada Januari 2026 mencapai 4.195.303 pelanggan.
Stasiun dengan jumlah pelanggan tertinggi tercatat di Stasiun Dukuh Atas BNI dengan 753.380 pelanggan. Stasiun Blok M BCA dengan 514.064 pelanggan di urutan kedua, dan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta dengan 435.810 pelanggan di urutan ketiga, Stasiun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia dengan 433.516 pelanggan di urutan keempat, dan Stasiun Bendungan Hilir dengan 308.421 pelanggan di urutan kelima. MRT Jakarta juga mencatatkan relasi Stasiun Dukuh Atas BNI ke Stasiun Blok M BCA sebagai perjalanan favorit pelanggan dengan 4,43 persen.
Kelima stasiun tersebut merupakan stasiun yang terintegrasi dengan moda transportasi publik lainnya serta bangunan di sekitarnya. Selain integrasi, tingginya penggunaan stasiun tersebut juga dipengaruhi oleh transit mitra feeder, dan program gaya hidup dan event. Relasi favorit tersebut menunjukkan bahwa Dukuh Atas yang telah tumbuh sebagai kawasan transit integrasi antarmoda dari luar Jakarta menuju kawasan Blok M yang tumbuh sebagai pusat kegiatan masyarakat perkotaan.
Konsistensi angka keterangkutan saat hari kerja di atas 150—160 ribu pelanggan per hari menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat menggunakan transportasi publik saat weekdays.
Untuk menaikkan angka keterangkutan, PT MRT Jakarta (Perseroda) bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama dari industri wisata seperti sektor kuliner, aktivitas, hingga pusat perbelanjaan, kesehatan, pendidikan, hingga promo tiket di sejumlah tempat wisata. Kolaborasi dengan sejumlah operator transportasi publik pengumpan (feeder) juga mendorong peningkatan angka keterangkutan. Lebih jauh lagi, moda pengumpan ini juga mengangkut dari kawasan hunian langsung menuju stasiun terdekat.
Kehadiran angkutan pengumpan ini akan berdampak tidak saja terhadap kenaikan angka keterangkutan, namun juga mendorong budaya menggunakan platform berbagi kendaraan (ride sharing). Secara angka, operator pengumpan ini menyumbang sekitar 22—23 persen angka keterangkutan dari total ridership MRT Jakarta.
Dilansir dari laporan MRT Jakarta, Jumat (13/2/2026), memasuki Januari 2026, PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatatkan 135.332 pelanggan setiap hari menggunakan layanan MRT Jakarta. Pada hari kerja Senin—Jumat (weekdays), angka keterangkutan telah mencapai 159.492 pelanggan per hari dan pada Sabtu—Minggu (weekend) mencapai 91.406 pelanggan per hari. Total angka keterangkutan (ridership) pada Januari 2026 mencapai 4.195.303 pelanggan.
Stasiun dengan jumlah pelanggan tertinggi tercatat di Stasiun Dukuh Atas BNI dengan 753.380 pelanggan. Stasiun Blok M BCA dengan 514.064 pelanggan di urutan kedua, dan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta dengan 435.810 pelanggan di urutan ketiga, Stasiun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia dengan 433.516 pelanggan di urutan keempat, dan Stasiun Bendungan Hilir dengan 308.421 pelanggan di urutan kelima. MRT Jakarta juga mencatatkan relasi Stasiun Dukuh Atas BNI ke Stasiun Blok M BCA sebagai perjalanan favorit pelanggan dengan 4,43 persen.
Kelima stasiun tersebut merupakan stasiun yang terintegrasi dengan moda transportasi publik lainnya serta bangunan di sekitarnya. Selain integrasi, tingginya penggunaan stasiun tersebut juga dipengaruhi oleh transit mitra feeder, dan program gaya hidup dan event. Relasi favorit tersebut menunjukkan bahwa Dukuh Atas yang telah tumbuh sebagai kawasan transit integrasi antarmoda dari luar Jakarta menuju kawasan Blok M yang tumbuh sebagai pusat kegiatan masyarakat perkotaan.
Konsistensi angka keterangkutan saat hari kerja di atas 150—160 ribu pelanggan per hari menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat menggunakan transportasi publik saat weekdays.
Untuk menaikkan angka keterangkutan, PT MRT Jakarta (Perseroda) bekerja sama dengan berbagai pihak, terutama dari industri wisata seperti sektor kuliner, aktivitas, hingga pusat perbelanjaan, kesehatan, pendidikan, hingga promo tiket di sejumlah tempat wisata. Kolaborasi dengan sejumlah operator transportasi publik pengumpan (feeder) juga mendorong peningkatan angka keterangkutan. Lebih jauh lagi, moda pengumpan ini juga mengangkut dari kawasan hunian langsung menuju stasiun terdekat.
Kehadiran angkutan pengumpan ini akan berdampak tidak saja terhadap kenaikan angka keterangkutan, namun juga mendorong budaya menggunakan platform berbagi kendaraan (ride sharing). Secara angka, operator pengumpan ini menyumbang sekitar 22—23 persen angka keterangkutan dari total ridership MRT Jakarta.