home masjid

Korelasi Teologis Bulan Ramadhan dan Peristiwa Turunnya Al-Quran Menurut Literatur Islam

Jum'at, 20 Februari 2026 - 04:32 WIB
Relevansi pemaknaan Ramadhan sebagai bulan Al-Quran menjadi semakin mendesak. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bagi dunia Islam, Ramadhan adalah sebuah kronologi yang tidak pernah benar-benar usai diperbincangkan. Ia bukan sekadar rotasi dua belas bulan dalam penanggalan Hijriah, melainkan sebuah episentrum teologis yang mengubah jalannya peradaban manusia.

Keagungan bulan ini tidaklah muncul dari hampa; ia bersandar pada satu peristiwa kosmik yang sangat fundamental: turunnya Al-Quran. Sejak saat itu, Ramadhan tidak lagi dipandang sebagai waktu yang biasa, melainkan sebagai wadah suci bagi firman Tuhan yang diturunkan ke bumi.

Korelasi antara Ramadhan dan Al-Quran ini merupakan inti sari dari identitas bulan suci tersebut. Sebagaimana termaktub secara eksplisit dalam Surah Al-Baqarah ayat 185, Allah Ta’ala menegaskan posisi eksklusif bulan ini:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).

Ayat ini memberikan narasi interpretatif bahwa fungsi utama Al-Quran adalah sebagai hudan atau petunjuk. Namun, petunjuk tersebut tidaklah bersifat pasif. Ia membawa bayyinat, yakni penjelasan-penjelasan yang jernih, serta berfungsi sebagai al-furqan, sebuah pisau bedah spiritual yang memisahkan antara yang benar dan yang sesat. Tanpa peristiwa turunnya Al-Quran di dalamnya, Ramadhan mungkin hanya akan menjadi bulan biasa lainnya dalam sejarah Arab pra-Islam.

Kedalaman makna ini semakin diperkuat dengan firman-Nya dalam Surah Al-Qadr ayat 1:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya