home masjid

Tradisi Iktikaf 10 Malam Terakhir Ramadhan: Konsistensi Ibadah Rasulullah dan Relevansi Spiritualnya

Senin, 23 Februari 2026 - 03:55 WIB
Ramadhan, dengan demikian, menyediakan sebuah pintu darurat menuju ketenangan melalui iktikaf. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Bulan Ramadhan bagi seorang muslim adalah sebuah perjalanan mendaki yang puncaknya terletak pada sepuluh hari terakhir. Ketika hiruk-pikuk persiapan lebaran mulai merayap di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta, sekelompok orang justru memilih jalan sunyi. Mereka melangkah menuju masjid, bukan sekadar untuk shalat lima waktu, melainkan untuk menetap, mengasingkan diri dari hiruk-pikuk duniawi, dan menenggelamkan diri dalam sebuah ritual yang disebut iktikaf.

Iktikaf secara etimologis bermakna menetap pada sesuatu. Namun dalam terminologi fikih, ia adalah aktivitas berdiam diri di dalam masjid dengan niat ibadah demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Ritual ini bukan sekadar tradisi tanpa akar, melainkan sebuah laku spiritual yang memiliki legitimasi sejarah dan teologis yang sangat kuat dalam Islam. Ia adalah momen ketika seorang hamba memutuskan hubungan sementara dengan makhluk demi menyambung koneksi yang lebih murni dengan Khalik.

Landasan utama dari praktik ini berpijak pada dokumentasi hadits yang memiliki derajat kesahihan absolut. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibunda Mukminin, Aisyah radhiyallahu anha, dalam Shahih Bukhari nomor 1922 dan Shahih Muslim nomor 1172:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ تَعَالَى , ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasanya beriktikaf pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan hingga Allah Taala mewafatkannya, kemudian istri-istrinya beriktikaf sepeninggal beliau.

Hadits ini memberikan dimensi interpretatif yang mendalam mengenai konsistensi. Frasa hingga Allah mewafatkannya menunjukkan bahwa iktikaf bukanlah ibadah musiman yang dilakukan sekali-dua kali, melainkan sebuah komitmen tahunan yang dijaga oleh Rasulullah sebagai puncak pengabdian di bulan suci. Fakta bahwa para istri Nabi meneruskan tradisi ini memberikan sinyal bahwa iktikaf bukanlah wilayah eksklusif kaum laki-laki, melainkan ruang spiritual terbuka bagi setiap muslim yang merindukan kedalaman batin.

Para ulama dunia, termasuk Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu, menjelaskan bahwa rahasia di balik penempatan iktikaf pada sepuluh malam terakhir adalah untuk mengejar Lailatul Qadar. Dengan menetap di masjid, seorang hamba dipastikan berada dalam kondisi ibadah saat malam mulia itu tiba. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu al-Fatawa menekankan bahwa esensi iktikaf adalah penyerahan hati sepenuhnya kepada Allah, di mana seseorang meminimalkan interaksi sosial demi memaksimalkan dialog batin dengan Tuhan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya