Kolom Fiqih Sosial: Membedah Intimasi Doa Yang Terselip di Syariat Puasa
Oleh: Fator Rahman M.Ag
LANGIT7.ID – Dalam rangkaian hukum yang rigid mengenai puasa pada Q.S. Al-Baqarah: 183-187, terdapat sebuah "interupsi" yang indah. Di sela-sela instruksi teknis mengenai fajar, malam hari, dan iktikaf, Allah menyelipkan ayat tentang kedekatan-Nya dan pengabulan doa pada ayat 186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
Terjemah:
Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.