Siwak di Bulan Suci: Ikhtiar Rasulullah Menjaga Kesucian Mulut demi Meraih Keridaan Ilahi
Miftah yusufpati
Kamis, 26 Februari 2026 - 15:00 WIB
Hingga hembusan napas terakhirnya, Rasulullah tetap menunjukkan perhatian besar pada siwak. Ilustrasi: Ist
LANGITT7.ID-Di tengah keheningan subuh atau saat terik matahari Ramadhan mencapai puncaknya, ada satu tradisi kecil namun sarat makna yang tidak pernah lekang dari keseharian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Di saat banyak orang merasa khawatir akan aroma mulut yang timbul akibat pengosongan lambung, Rasulullah justru tetap setia memegang sepotong dahan dari pohon salvadora persica atau yang lebih dikenal sebagai siwak.
Bagi beliau, menjaga kebersihan mulut bukan sekadar urusan estetika sosial, melainkan sebuah ritual spiritual yang melampaui batas waktu dan keadaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah kunci kebahagiaan tertinggi.
Dalam konteks ini, konsistensi Nabi dalam bersiwak, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, menjadi cermin dari kesatuan antara kesehatan fisik dan kebersihan jiwa. Beliau tidak meninggalkan siwak meskipun dalam kondisi berpuasa, sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa kesucian diri harus dijaga dalam setiap helaan napas.
Keutamaan siwak ini bukan tanpa landasan yang kuat. Rasulullah sering kali menekankan nilai penting alat pembersih alami ini dalam berbagai kesempatan. Salah satu sabda beliau yang sangat masyhur mencatat dimensi ganda dari aktivitas bersiwak:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Siwak adalah pembersih mulut dan sarana untuk meraih keridaan Rabb (Allah).
Bagi beliau, menjaga kebersihan mulut bukan sekadar urusan estetika sosial, melainkan sebuah ritual spiritual yang melampaui batas waktu dan keadaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah kunci kebahagiaan tertinggi.
Dalam konteks ini, konsistensi Nabi dalam bersiwak, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, menjadi cermin dari kesatuan antara kesehatan fisik dan kebersihan jiwa. Beliau tidak meninggalkan siwak meskipun dalam kondisi berpuasa, sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa kesucian diri harus dijaga dalam setiap helaan napas.
Keutamaan siwak ini bukan tanpa landasan yang kuat. Rasulullah sering kali menekankan nilai penting alat pembersih alami ini dalam berbagai kesempatan. Salah satu sabda beliau yang sangat masyhur mencatat dimensi ganda dari aktivitas bersiwak:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
Siwak adalah pembersih mulut dan sarana untuk meraih keridaan Rabb (Allah).