LANGITT7.ID-Di tengah keheningan subuh atau saat terik matahari Ramadhan mencapai puncaknya, ada satu tradisi kecil namun sarat makna yang tidak pernah lekang dari keseharian Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam. Di saat banyak orang merasa khawatir akan aroma mulut yang timbul akibat pengosongan lambung, Rasulullah justru tetap setia memegang sepotong dahan dari pohon salvadora persica atau yang lebih dikenal sebagai siwak.
Bagi beliau, menjaga kebersihan mulut bukan sekadar urusan estetika sosial, melainkan sebuah ritual spiritual yang melampaui batas waktu dan keadaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab
Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah secara lahir dan batin adalah kunci kebahagiaan tertinggi.
Dalam konteks ini, konsistensi Nabi dalam bersiwak, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, menjadi cermin dari kesatuan antara kesehatan fisik dan kebersihan jiwa. Beliau tidak meninggalkan siwak meskipun dalam kondisi berpuasa, sebuah tindakan yang menunjukkan bahwa kesucian diri harus dijaga dalam setiap helaan napas.
Keutamaan siwak ini bukan tanpa landasan yang kuat. Rasulullah sering kali menekankan nilai penting alat pembersih alami ini dalam berbagai kesempatan. Salah satu sabda beliau yang sangat masyhur mencatat dimensi ganda dari aktivitas bersiwak:
السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّSiwak adalah pembersih mulut dan sarana untuk meraih keridaan Rabb (Allah).Kandungan dalil tersebut, sebagaimana diulas dalam kitab Nailul Authar karya Imam Asy-Syaukani, menunjukkan bahwa siwak memiliki fungsi horizontal sekaligus vertikal.
Secara horizontal, ia berfungsi sebagai pembersih mulut (mathharatun lil fami) yang menjaga kesehatan gusi dan gigi. Namun secara vertikal, aktivitas ini dipandang sebagai upaya meraih keridaan Allah (mardhatun lir Rabbi). Inilah yang menjadi alasan mengapa Nabi tidak membatasi penggunaan siwak hanya saat tidak berpuasa.
Bagi Rasulullah, ilmu yang bermanfaat harus selalu diiringi dengan amalan saleh. Menggunakan siwak adalah buah dari ilmu tentang keutamaan kebersihan dalam Islam. Beliau tidak pernah memandang remeh hal-hal kecil yang dapat mendekatkan diri kepada Sang Khalik.
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitab
Zadul Maad menjelaskan bahwa siwak memiliki khasiat yang luas, mulai dari mencerahkan gigi, menguatkan gusi, hingga membantu menjernihkan suara dan pikiran. Di bulan Ramadhan, fungsi-fungsi ini membantu seorang muslim tetap terjaga kesegarannya saat beribadah.
Menariknya, kecintaan Rasulullah terhadap siwak tetap konsisten tanpa pernah jatuh pada sikap ekstrem atau ghuluw. Beliau memberikan teladan bahwa menjaga kesegaran mulut adalah bagian dari menghormati sesama manusia dan para malaikat yang mendampingi saat shalat dan tilawah Al-Quran. Ilmu yang bermanfaat mengenai siwak ini mengajarkan kepada umat bahwa ibadah puasa seharusnya tidak menjadi alasan bagi seseorang untuk tampil dengan aroma yang tidak sedap atau penampilan yang tidak terawat.
Kebahagiaan tertinggi diraih ketika seorang hamba mampu meneladani perilaku Nabi secara menyeluruh. Siapa pun yang berpaling dari petunjuk beliau di dunia, dikhawatirkan akan kehilangan kesempatan untuk bersama beliau di akhirat kelak. Siwak menjadi simbol kecil dari ketaatan yang presisi—sebuah bentuk dedikasi yang menunjukkan bahwa setiap detail kecil dalam hidup manusia dapat bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar.
Hingga hembusan napas terakhirnya, Rasulullah tetap menunjukkan perhatian besar pada siwak. Hal ini membuktikan bahwa bagi beliau, kebersihan adalah jati diri seorang mukmin yang tak boleh luntur oleh rasa lapar maupun haus. Ramadhan justru menjadi momentum untuk memperkuat kebiasaan ini, menjadikan setiap aktivitas harian sebagai sarana untuk mengetuk pintu keridaan Allah Azza wa Jalla. Dengan siwak, seorang muslim sedang mempraktikkan amalan saleh yang lahir dari pemahaman ilmu yang lurus, sebuah teladan abadi dari sang utusan yang akhlaknya adalah Al-Quran.
(mif)