Silaturahmi Lintas Negara
Mango Sticky Rice dan Klakson Sukhumvit: Cerita Buka Puasa di Jantung Thailand (3)
Redaksi
Jum'at, 27 Februari 2026 - 08:00 WIB
Mango Sticky Rice dan Klakson Sukhumvit: Cerita Buka Puasa di Jantung Thailand. Foto: dok pribadi.
Kini Thailand. Tidak ada adzan yang menggema di antara gedung-gedung tinggi. Tidak ada lampu hias Ramadhan di mal atau hotel.
Sore hari di Sathorn, Sukhumvit, maupun Khlong Toei area diisi klakson dan langkah kaki pekerja yang pulang kantor. Tapi jika kita berjalan sedikit lebih pelan, kita akan menemukan penjual jajanan di pinggir jalan—gorengan, mango sticky rice, sup hangat dalam plastik bening.
Baca juga: Dari Ras Al Khaimah ke Doha, Perjalanan Menjemput Hangatnya Ramadhan di Timur Tengah (2)
Saya sempat ke Phuket untuk urusan imigrasi di hari ketiga Ramadhan. Di Banzaan Market, saya berburu takjil versi Thailand—ikan bakar segar, jajanan pasar lokal, minuman manis dengan es yang berderak di gelas plastik.
Tidak ada gema takbir layaknya Ramadhan di Indonesia. Tapi ada rasa yang sama: menunggu waktu berbuka dengan harap.
Ramadhan sebagai ekspatriat mengajarkan saya satu hal: rumah bukan selalu tempat. Ia adalah rasa kebersamaan yang kita bangun, bahkan di kota yang tidak mengenal tradisi kita.
Dari Sahara hingga hingga Sathorn, Ramadhan bagi saya bukan hanya soal menahan lapar. Ia adalah perjalanan menemukan diri—di antara pasir, laut, dan gedung-gedung asing.
Sore hari di Sathorn, Sukhumvit, maupun Khlong Toei area diisi klakson dan langkah kaki pekerja yang pulang kantor. Tapi jika kita berjalan sedikit lebih pelan, kita akan menemukan penjual jajanan di pinggir jalan—gorengan, mango sticky rice, sup hangat dalam plastik bening.
Baca juga: Dari Ras Al Khaimah ke Doha, Perjalanan Menjemput Hangatnya Ramadhan di Timur Tengah (2)
Saya sempat ke Phuket untuk urusan imigrasi di hari ketiga Ramadhan. Di Banzaan Market, saya berburu takjil versi Thailand—ikan bakar segar, jajanan pasar lokal, minuman manis dengan es yang berderak di gelas plastik.
Tidak ada gema takbir layaknya Ramadhan di Indonesia. Tapi ada rasa yang sama: menunggu waktu berbuka dengan harap.
Ramadhan sebagai ekspatriat mengajarkan saya satu hal: rumah bukan selalu tempat. Ia adalah rasa kebersamaan yang kita bangun, bahkan di kota yang tidak mengenal tradisi kita.
Dari Sahara hingga hingga Sathorn, Ramadhan bagi saya bukan hanya soal menahan lapar. Ia adalah perjalanan menemukan diri—di antara pasir, laut, dan gedung-gedung asing.