home masjid

Jihad di Bawah Terik Ramadhan: Membedah Dialektika Kekuatan Fisik dan Ketaatan dalam Fatwa Kenabian

Jum'at, 27 Februari 2026 - 03:00 WIB
Melalui perintah berbuka saat jihad, Rasulullah mewariskan pesan abadi bahwa kekuatan mukmin adalah modal utama bagi tegaknya keadilan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Bulan Ramadhan sering kali dicitrakan sebagai fase pengasingan diri dalam ketenangan masjid atau momen melambatnya produktivitas demi menahan lapar. Namun, lembaran sejarah Islam justru mencatat narasi yang kontras.

Di bawah panji kepemimpinan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Ramadhan bertransformasi menjadi bulan perjuangan fisik yang paling menentukan. Salah satu noktah paling krusial dalam manasik jihad beliau adalah keputusan radikal untuk memerintahkan para sahabat membatalkan puasa demi menjaga kekuatan di hadapan musuh.

Dalam perspektif interpretatif, kebijakan ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional dalam memandang realitas fisik. Rasulullah tidak membiarkan spiritualitas membutakan nalar strategi.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasail menggarisbawahi bahwa mengikuti petunjuk Rasulullah adalah kunci kebahagiaan tertinggi. Ilmu yang bermanfaat dalam hal ini adalah memahami bahwa ketaatan kepada perintah Rasulullah untuk berbuka saat jihad justru merupakan amalan saleh yang lebih utama daripada memaksakan puasa dalam keadaan lemah.

Catatan sejarah yang paling menonjol mengenai hal ini terjadi pada peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Makkah). Saat itu, pasukan muslim bergerak di bawah terik matahari Ramadhan. Rasulullah menyadari bahwa beban perjalanan dan persiapan tempur memerlukan energi yang besar. Dalam sebuah riwayat yang sahih, beliau bersabda kepada para sahabatnya:

إِنَّكُمْ قَدْ دَنَوْتُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ، وَالْفِطْرُ أَقْوَى لَكُمْ

Sesungguhnya kalian telah mendekati musuh kalian, dan berbuka itu lebih menguatkan bagi kalian. (Diriwayatkan oleh Muslim).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya