Myriam Francois Cerrah Sebut Puasa Ramadhan Perdana Sebagai Medium Transformasi Intelektual
Miftah yusufpati
Sabtu, 28 Februari 2026 - 04:00 WIB
Myriam Francois Cerrah mengenang puasa pertamanya bukan sekadar ujian fisik, melainkan perjalanan filosofis yang mendalam. Ilustrasi: Ist
LANGT7.ID-Bagi publik Inggris, sosok Myriam Francois Cerrah dikenal sebagai seorang intelektual, jurnalis, dan penulis yang vokal dalam isu-isu sosial dan agama. Namun, sebelum menjadi salah satu wajah Muslimah terkemuka di Eropa, perempuan lulusan Universitas Oxford ini melalui fase pencarian makna yang panjang.
Puncak dari perjalanan spiritualnya terjadi ketika ia memutuskan memeluk Islam pada tahun 2003, yang kemudian membawanya pada pengalaman puasa Ramadhan perdana yang mengubah cara pandangnya terhadap eksistensi manusia.
Menjalani ibadah puasa untuk pertama kalinya di tengah lingkungan akademis dan budaya Barat yang sangat mementingkan kepuasan material adalah tantangan tersendiri bagi Myriam.
Dalam berbagai tulisan dan testimoninya, ia mengungkapkan bahwa pengalaman pertamanya menjalankan puasa bukanlah tentang penderitaan fisik akibat rasa haus dan lapar. Sebaliknya, ia melihat Ramadhan sebagai sebuah latihan intelektual dan filosofis untuk membebaskan diri dari perbudakan keinginan rendah atau hawa nafsu.
Myriam menekankan bahwa puasa mengajarkan manusia untuk mengenali kembali batas-batas antara kebutuhan dan keinginan. Selama Ramadhan pertama tersebut, ia merenungkan bagaimana masyarakat modern sering kali kehilangan kendali atas diri mereka sendiri karena selalu menuruti tuntutan instan dari tubuh mereka.
Baginya, tindakan menahan lapar di bulan suci adalah sebuah pernyataan kedaulatan jiwa di atas materi. Dengan tidak makan dan minum, ia merasa sedang melakukan dekonstruksi terhadap kebiasaan hidup yang konsumtif.
Pengalaman berbuka puasa pertama juga memberinya wawasan baru mengenai keadilan sosial. Myriam menyadari bahwa lapar yang ia rasakan bersifat sementara dan berpahala, sementara jutaan orang di belahan dunia lain merasakannya sebagai sebuah penderitaan tanpa pilihan.
Puncak dari perjalanan spiritualnya terjadi ketika ia memutuskan memeluk Islam pada tahun 2003, yang kemudian membawanya pada pengalaman puasa Ramadhan perdana yang mengubah cara pandangnya terhadap eksistensi manusia.
Menjalani ibadah puasa untuk pertama kalinya di tengah lingkungan akademis dan budaya Barat yang sangat mementingkan kepuasan material adalah tantangan tersendiri bagi Myriam.
Dalam berbagai tulisan dan testimoninya, ia mengungkapkan bahwa pengalaman pertamanya menjalankan puasa bukanlah tentang penderitaan fisik akibat rasa haus dan lapar. Sebaliknya, ia melihat Ramadhan sebagai sebuah latihan intelektual dan filosofis untuk membebaskan diri dari perbudakan keinginan rendah atau hawa nafsu.
Myriam menekankan bahwa puasa mengajarkan manusia untuk mengenali kembali batas-batas antara kebutuhan dan keinginan. Selama Ramadhan pertama tersebut, ia merenungkan bagaimana masyarakat modern sering kali kehilangan kendali atas diri mereka sendiri karena selalu menuruti tuntutan instan dari tubuh mereka.
Baginya, tindakan menahan lapar di bulan suci adalah sebuah pernyataan kedaulatan jiwa di atas materi. Dengan tidak makan dan minum, ia merasa sedang melakukan dekonstruksi terhadap kebiasaan hidup yang konsumtif.
Pengalaman berbuka puasa pertama juga memberinya wawasan baru mengenai keadilan sosial. Myriam menyadari bahwa lapar yang ia rasakan bersifat sementara dan berpahala, sementara jutaan orang di belahan dunia lain merasakannya sebagai sebuah penderitaan tanpa pilihan.