LANGT7.ID-Bagi publik Inggris, sosok Myriam Francois Cerrah dikenal sebagai seorang intelektual, jurnalis, dan penulis yang vokal dalam isu-isu sosial dan agama. Namun, sebelum menjadi salah satu wajah Muslimah terkemuka di Eropa, perempuan lulusan Universitas Oxford ini melalui fase pencarian makna yang panjang.
Puncak dari perjalanan spiritualnya terjadi ketika ia memutuskan memeluk Islam pada tahun 2003, yang kemudian membawanya pada pengalaman puasa Ramadhan perdana yang mengubah cara pandangnya terhadap eksistensi manusia.
Menjalani ibadah puasa untuk pertama kalinya di tengah lingkungan akademis dan budaya Barat yang sangat mementingkan kepuasan material adalah tantangan tersendiri bagi Myriam.
Dalam berbagai tulisan dan testimoninya, ia mengungkapkan bahwa pengalaman pertamanya menjalankan puasa bukanlah tentang penderitaan fisik akibat rasa haus dan lapar. Sebaliknya, ia melihat Ramadhan sebagai sebuah latihan intelektual dan filosofis untuk membebaskan diri dari perbudakan keinginan rendah atau hawa nafsu.
Myriam menekankan bahwa puasa mengajarkan manusia untuk mengenali kembali batas-batas antara kebutuhan dan keinginan. Selama Ramadhan pertama tersebut, ia merenungkan bagaimana masyarakat modern sering kali kehilangan kendali atas diri mereka sendiri karena selalu menuruti tuntutan instan dari tubuh mereka.
Baginya, tindakan menahan lapar di bulan suci adalah sebuah pernyataan kedaulatan jiwa di atas materi. Dengan tidak makan dan minum, ia merasa sedang melakukan dekonstruksi terhadap kebiasaan hidup yang konsumtif.
Pengalaman berbuka puasa pertama juga memberinya wawasan baru mengenai keadilan sosial. Myriam menyadari bahwa lapar yang ia rasakan bersifat sementara dan berpahala, sementara jutaan orang di belahan dunia lain merasakannya sebagai sebuah penderitaan tanpa pilihan.
Hal ini mendorongnya untuk lebih aktif dalam isu-isu kemanusiaan. Kedamaian yang ia temukan saat menjalankan shalat dan tadarus Al-Quran selama bulan puasa pertama menjadi titik balik yang memantapkan identitas keislamannya.
Sumber narasi mengenai refleksi filosofis dan pengalaman puasa perdana Myriam Francois Cerrah ini disadur dari berbagai artikel opini yang ia tulis untuk harian The Guardian serta wawancara mendalam dalam program dokumenter BBC berjudul The Muslim Pound. Selain itu, pemikiran filosofisnya mengenai puasa juga tertuang dalam esai-esainya yang mengeksplorasi hubungan antara iman dan modernitas di Eropa.
Bagi Myriam, Ramadhan perdana adalah sebuah gerbang menuju kesadaran diri yang lebih tinggi. Ia berhasil membuktikan bahwa puasa tidak melumpuhkan akal, melainkan justru menajamkan daya kritis manusia terhadap lingkungannya. Integritas karakter yang ditempa melalui pengendalian diri selama bulan puasa telah membantunya menjadi sosok penulis yang gigih menyuarakan kebenaran dan keadilan hingga saat ini.
(mif)