home masjid

Rasulullah Tegaskan Shalat Malam dan Puasa Adalah Sarana Kembali ke Fitrah

Senin, 02 Maret 2026 - 04:00 WIB
Ampunan total di bulan Ramadhan bukan otomatis milik setiap pelakunya. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Bagi banyak orang, Ramadhan adalah repetisi tahunan tentang menahan lapar dan bangun tengah malam untuk shalat. Namun, di mata para ulama dan ahli hukum Islam, ibadah ini memiliki lapisan filosofis yang jauh lebih dalam daripada sekadar menahan hasrat biologis. Ada sebuah garis demarkasi yang tegas antara mereka yang sekadar ikut-ikutan tren sosial dengan mereka yang benar-benar menjemput ampunan Ilahi. Garis itu bernama iman dan ihtisab.

Dalam ulasan mendalam pada buku Tadzkirul Anam Bidurus ash-Shiyam karya Syaikh Sad bin Said al-Hajuri, ditekankan bahwa puasa di siang hari dan shalat malam di bulan Ramadhan merupakan sebab utama turunnya ampunan yang disyariatkan. Namun, ampunan ini tidak turun begitu saja. Ada syarat kualitatif yang harus terpenuhi: ibadah tersebut harus didasari oleh iman dan pengharapan penuh akan pahala dari Allah Azza wa Jalla, atau yang dalam terminologi hadits disebut ihtisab.

Syaikh al-Hajuri membedah dengan tajam bahwa seorang mukmin sejati berpuasa bukan karena niat mengikuti orang banyak, bukan pula untuk mendapatkan sanjungan atau sekadar melestarikan adat istiadat. Puasa bukan pula sebuah kampanye kesehatan atau urusan duniawi semata. Ibadah ini harus terbebas dari penyakit pamer (riya) dan niat-niat buruk terhadap sesama Muslim. Dorongan utamanya murni: merealisasikan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Landasan hukum dari prinsip ini berpijak pada sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka diampuni semua dosanya yang telah lewat.

Interpretasi atas kata iman dalam hadits ini merujuk pada pembenaran hati terhadap kewajiban puasa, sementara ihtisab bermakna mengharapkan ganjaran hanya dari Allah tanpa rasa berat atau benci terhadap ibadah tersebut. Ketika kedua elemen ini menyatu, hasilnya adalah transformasi rohani yang luar biasa. Seorang hamba yang menyelesaikan puasanya dengan kriteria ini diibaratkan kembali pada kesucian fitrah, bersih dari noda dosa layaknya bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya