LANGIT7.ID- Bagi banyak orang, Ramadhan adalah repetisi tahunan tentang menahan lapar dan bangun tengah malam untuk shalat. Namun, di mata para ulama dan ahli hukum Islam, ibadah ini memiliki lapisan filosofis yang jauh lebih dalam daripada sekadar menahan hasrat biologis. Ada sebuah garis demarkasi yang tegas antara mereka yang sekadar ikut-ikutan tren sosial dengan mereka yang benar-benar menjemput ampunan Ilahi. Garis itu bernama iman dan ihtisab.
Dalam ulasan mendalam pada buku
Tadzkirul Anam Bidurus ash-Shiyam karya Syaikh Sad bin Said al-Hajuri, ditekankan bahwa puasa di siang hari dan shalat malam di bulan Ramadhan merupakan sebab utama turunnya ampunan yang disyariatkan. Namun, ampunan ini tidak turun begitu saja. Ada syarat kualitatif yang harus terpenuhi: ibadah tersebut harus didasari oleh iman dan pengharapan penuh akan pahala dari Allah Azza wa Jalla, atau yang dalam terminologi hadits disebut ihtisab.
Syaikh al-Hajuri membedah dengan tajam bahwa seorang mukmin sejati berpuasa bukan karena niat mengikuti orang banyak, bukan pula untuk mendapatkan sanjungan atau sekadar melestarikan adat istiadat. Puasa bukan pula sebuah kampanye kesehatan atau urusan duniawi semata. Ibadah ini harus terbebas dari penyakit pamer (riya) dan niat-niat buruk terhadap sesama Muslim. Dorongan utamanya murni: merealisasikan ketaatan kepada Sang Pencipta.
Landasan hukum dari prinsip ini berpijak pada sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِBarangsiapa yang berpuasa karena iman dan ingin mendapatkan pahala, maka diampuni semua dosanya yang telah lewat.Interpretasi atas kata iman dalam hadits ini merujuk pada pembenaran hati terhadap kewajiban puasa, sementara ihtisab bermakna mengharapkan ganjaran hanya dari Allah tanpa rasa berat atau benci terhadap ibadah tersebut. Ketika kedua elemen ini menyatu, hasilnya adalah transformasi rohani yang luar biasa. Seorang hamba yang menyelesaikan puasanya dengan kriteria ini diibaratkan kembali pada kesucian fitrah, bersih dari noda dosa layaknya bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.
Fenomena serupa juga berlaku pada ibadah malam atau qiyamul lail. Rasulullah menegaskan bahwa barangsiapa melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka ia pun berhak atas ampunan dosa-dosa masa lalu. Ini adalah paket lengkap pembersihan diri: menjaga waktu siang dengan puasa dan memelihara waktu malam dengan shalat tarawih.
Ketegasan syariat dalam hal ini juga tergambar dalam hadits lain yang menyebutkan bahwa Allah mewajibkan puasa dan Rasulullah mensunnahkan shalat malamnya. Maka, barangsiapa yang menggabungkan keduanya dengan landasan iman dan ihtisab, niscaya ia keluar dari belenggu dosa-dosanya sebagaimana ia dilahirkan oleh ibundanya. Ini adalah janji fantastis yang menuntut keseriusan batin, bukan sekadar ketahanan fisik.
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ampunan yang dimaksud umumnya mencakup dosa-dosa kecil, namun para ulama lain berpendapat bahwa rahmat Allah yang luas di bulan Ramadhan bisa mencakup penghapusan dosa besar selama disertai taubat yang sungguh-sungguh. Inilah sebabnya mengapa Ramadhan disebut sebagai bulan peluang; sebuah musim di mana pintu-pintu ampunan dibuka lebar bagi mereka yang ikhlas dan taat.
Pada akhirnya, menjaga waktu di bulan Ramadhan adalah tentang menjaga niat. Seseorang yang terjaga di tengah malam untuk shalat namun hatinya masih mengharapkan pujian manusia, atau yang berlapar-lapar namun lisannya tidak berpuasa dari mencela orang lain, telah kehilangan esensi ihtisab. Kebahagiaan tertinggi bagi seorang Muslim adalah ketika ia mampu menyelesaikan Ramadhan dengan hati yang suci, sebuah pencapaian yang hanya bisa diraih melalui ketaatan yang tulus kepada Allah Azza wa Jalla.
(mif)