Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Ampunan yang Tak Terduga: Mengapa Musafir Ini Masuk Surga karena Seekor Anjing?

miftah yusufpati Rabu, 01 April 2026 - 17:37 WIB
Ampunan yang Tak Terduga: Mengapa Musafir Ini Masuk Surga karena Seekor Anjing?
Jalan menuju rida Allah bisa jadi tidak ditemukan di barisan paling depan tempat ibadah, melainkan pada seekor binatang terlantar. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dunia sering kali menilai kesalehan dari panjangnya barisan doa atau dahi yang menghitam. Namun, dalam khazanah literatur nubuwah yang diwariskan Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, ada sebuah narasi yang menjungkirbalikkan logika kaku mengenai ketaatan. Ini adalah kisah tentang bagaimana setetes air yang diberikan kepada makhluk yang sering dianggap remeh, yakni seekor anjing, mampu menghapus tumpukan dosa masa lalu dan membuka gerbang surga yang paling eksklusif.

Kisah pertama membawa kita pada sosok seorang pria musafir. Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari dalam karyanya yang diterjemahkan oleh Abu Umamah Arif Hidayatullah (2013), menguraikan momen dramatis saat musafir tersebut bergelut dengan dahaga yang mencekik di tengah perjalanan. Setelah berhasil memuaskan haus di dasar sumur, ia keluar dan mendapati seekor anjing yang sedang menjilat tanah lembap karena kehausan yang luar biasa.

Di titik inilah, empati sang pria bekerja melampaui kepentingan pribadinya. Ia bergumam, "Anjing ini telah kehausan sama seperti ketika tadi saya merasa dahaga sekali." Tanpa ragu, ia turun kembali ke sumur yang dalam, mengisi sepatunya (khuff) dengan air, lalu menggigit sepatu itu dengan mulutnya agar tangannya bisa memanjat keluar. Sebuah tindakan teknis yang penuh pengorbanan demi seekor binatang yang haus.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ

Maka ia memberikan minum kepada anjing itu, lalu Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Interpretasi atas hadis ini sangatlah mendalam. Kata "syakarallahu lahu" atau Allah berterima kasih kepadanya, menunjukkan betapa Tuhan sangat menghargai sekecil apa pun kebaikan yang didasari oleh ketulusan. Bahkan, dalam riwayat lain di Sahih Bukhari, ditegaskan bahwa Allah memasukkan pria tersebut ke dalam surga.

Namun, kejutan teologis yang lebih besar muncul pada riwayat berikutnya. Pelakunya bukan seorang zahid atau ahli ibadah, melainkan seorang perempuan pezina (baghiyyun) dari kalangan Bani Israil. Status sosialnya berada di titik nadir dalam norma agama maupun masyarakat saat itu. Namun, ketika ia melihat seekor anjing yang nyaris mati kehausan berkeliling di sekitar sumur, nuraninya bergetar. Ia melepas sepatunya, mengambil air, dan meminumkannya kepada anjing tersebut.

Hasilnya mencengangkan: Allah mengampuni seluruh dosanya dengan sebab perbuatan tunggal itu. Hadis ini menjadi tamparan bagi mereka yang merasa memiliki kavling surga hanya karena tumpukan ritual formal, sekaligus menjadi harapan bagi mereka yang merasa sudah terlalu kotor oleh dosa. Kasih sayang (rahmah) yang tulus kepada makhluk Allah ternyata memiliki kekuatan penghapus dosa yang luar biasa.

Para sahabat Nabi yang mendengar kisah ini sempat bertanya-tanya, "Ya Rasulullah, apakah mengurusi binatang kami bisa memperoleh ganjaran?" Jawaban Nabi sangat singkat namun menjadi landasan etika lingkungan dalam Islam: "Pada setiap bibir yang basah (makhluk hidup) ada pahalanya."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari memberikan catatan interpretatif bahwa ampunan yang didapatkan perempuan tersebut lahir karena rasa takutnya kepada Allah (khasyah) dan rasa kasihannya yang murni saat itu. Perbuatan tersebut menjadi titik balik spiritualitasnya. Ini membuktikan bahwa dalam Islam, kasih sayang bersifat universal, tidak terbatas pada sesama manusia, melainkan mencakup seluruh spektrum kehidupan.

Bagi kita di tahun 2026, di mana empati sering kali terkikis oleh egoisme digital, kisah si pemberi minum anjing ini adalah pengingat yang tajam. Bahwa jalan menuju rida Allah bisa jadi tidak ditemukan di barisan paling depan tempat ibadah, melainkan pada seekor binatang terlantar yang butuh pertolongan, atau pada tindakan kecil yang tidak sempat difoto untuk diunggah di media sosial.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)