home masjid

Ampunan Dosa Masa Lalu: Urgensi Shalat Malam di Penghujung Ramadhan

Senin, 02 Maret 2026 - 16:00 WIB
Pada akhirnya, Lailatul Qadar tetap menjadi rahasia Allah untuk memacu ketaatan hambanya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara lipatan malam-malam terakhir bulan Ramadhan, terdapat sebuah misteri yang selalu menggetarkan sanubari umat beriman selama lebih dari empat belas abad. Lailatul Qadar, sebuah terminologi yang merujuk pada malam kemuliaan, dipandang bukan hanya sebagai unit waktu, melainkan sebagai portal rahmat yang mampu melenyapkan beban dosa masa lalu. Dalam perspektif yang lebih dalam, malam ini adalah titik balik di mana seorang hamba melakukan negosiasi spiritual dengan Sang Pencipta melalui medium shalat malam yang didasari oleh iman dan pengharapan yang utuh.

Sejarah mencatat bahwa Lailatul Qadar adalah momentum di mana Allah Azza wa Jalla memuliakan konstelasi waktu di atas semua malam lainnya. Inilah malam di mana Al Quran diturunkan sebagai kompas bagi kemanusiaan. Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surat Al Qadr ayat pertama:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.

Keistimewaan malam ini melampaui logika linear manusia. Allah menjadikannya lebih baik daripada seribu bulan, sebuah metafora matematis yang jika dikonversi setara dengan delapan puluh tiga tahun empat bulan. Pada durasi waktu yang sangat singkat tersebut, para malaikat turun membawa kedamaian dan keselamatan dari segala bentuk keburukan dan dosa. Begitu krusialnya malam ini hingga Allah mengkhususkan satu surat penuh dalam Al Quran untuk membicarakannya. Maka, dalam kacamata para ulama, orang yang terhalang dari berbagai kebaikan pada malam ini sejatinya adalah orang yang benar-benar terhalang dari segala jenis kebaikan.

Syaikh Sad bin Said al-Hajuri dalam kitabnya, Tadzkirul Anam Bidurus ash-Shiyam yang diterbitkan oleh Dar Ibnul Jauzi, menjelaskan bahwa mendapatkan ampunan di malam agung tersebut memiliki parameter kualitatif yang ketat. Kuncinya terletak pada dua kata kunci: iman dan ihtisab (mengharapkan pahala). Hal ini berlandaskan pada sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya