home masjid

Al-Quran dan Lailatul Qadar: Perjalanan Meraih Derajat Mulia yang Abadi

Rabu, 04 Maret 2026 - 03:00 WIB
Lailatul Qadar adalah hadiah bagi mereka yang mau bersusah payah dalam ketaatan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Dalam keheningan sepuluh malam terakhir Ramadhan, terdapat sebuah fenomena spiritual yang melampaui nalar hitungan manusia. Lailatul Qadar, yang secara harfiah berarti malam kemuliaan atau malam penetapan, hadir bukan sebagai perayaan yang riuh dengan simbol-simbol lahiriah, melainkan sebagai sebuah medan perlombaan batin yang sunyi namun intens. Di balik selubung malam tersebut, tersimpan janji pembebasan dan pengangkatan derajat kemanusiaan yang bersifat abadi.

Merujuk pada ulasan mendalam dalam kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Fii Ramadhan karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, keutamaan malam ini bersifat fundamental.

Lailatul Qadar adalah saksi bisu turunnya Al-Quran Al-Karim, sebuah kitab suci yang diposisikan sebagai pedoman bagi mereka yang mendambakan kemuliaan. Penurunan wahyu pertama pada malam tersebut bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sebuah proklamasi transformasi bagi peradaban manusia.

Dalam perspektif yang diurai oleh Syaikh Salim Al-Hilaaly, umat Islam yang benar-benar mengikuti sunnah Rasulullah memiliki cara unik dalam memperingati malam agung ini.

Berbeda dengan tradisi lain yang mungkin menggunakan tanda-tanda fisik tertentu atau ritual simbolis seperti menancapkan anak panah, kaum Muslimin justru memilih jalan ketaatan yang bersifat substansial. Mereka tidak memasang atribut, melainkan menghidupkan malam (qiyamul lail) dengan satu dorongan utama: iman yang menghunjam dan pengharapan pahala yang tulus hanya kepada Allah Azza wa Jalla.

Hal ini sejalan dengan landasan teologis yang tertuang dalam surat Al-Qadr:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya