LANGIT7.ID-Jakarta; - Komisaris Utama (Komut) PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, menggelar kunjungan kerja maraton bertajuk Management Walkthrough (MWT) selama empat hari di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel). Kegiatan pengawasan lapangan ini dilakukan untuk mengecek keandalan operasional, memperkuat budaya keselamatan kerja, serta menjamin ketersediaan BBM dan produk energi bagi masyarakat.
Agenda inspeksi dari hulu ke hilir ini diawali pada Senin (20/7/2026) dengan meninjau Aviation Fuel Terminal (AFT) Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang. Selain AFT SMB II, rangkaian pengawasan ketat ini mencakup kunjungan ke Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 Prabumulih, Fasilitas Produksi Beringin, Integrated Terminal (IT) Kertapati, site visit di Refinery Unit (RU) III Plaju, serta menghadiri gelaran Jambore HSSE.
Di lokasi pertama, Mochamad Iriawan mengapresiasi kinerja layanan avtur yang menjadi kunci utama kelancaran transportasi udara di Sumatera Selatan. "Kami menekankan pentingnya menjaga aspek keselamatan dan ketepatan waktu pengisian (On-Time Performance/OTP) demi menjaga reputasi perusahaan serta kepercayaan para mitra maskapai," ujar dia.
Menurut pria yang akrab disapa Iwan Bule tersebut, penyaluran avtur di SMB II berjalan aman, lancar, dan sesuai standar keselamatan penerbangan internasional. Dedikasi tim lapangan juga teruji saat menghadapi lonjakan permintaan di masa-masa padat seperti mudik Lebaran, Natal dan Tahun Baru, hingga periode penerbangan haji.
Iriawan menjelaskan, secara operasional, konsumsi harian avtur di AFT SMB II pada kondisi normal mencapai 73.000 hingga 74.000 liter. Angka ini meningkat sekitar enam persen saat masa Satgas Lebaran. Penyaluran avtur bahkan menyentuh total 2.080 Kilo Liter (KL) untuk melayani puluhan kelompok terbang (kloter) embarkasi Palembang selama musim haji, yang didukung armada 7 unit mobil refueler di apron bandara.
"Kunjungan MWT ini bukan untuk mencari kesalahan teknis, melainkan memastikan budaya keselamatan (safety culture) benar-benar diterapkan dari tingkat manajemen hingga operator terdepan," tuturnya.
Ia merinci beberapa instruksi penting bagi tim operasional di lapangan. Pertama, mitigasi bencana; menguji keandalan sistem proteksi kebakaran secara berkala.
Kedua, kontrol kualitas; memperketat pengujian laboratorium dan pengecekan visual pada tangki timbun serta armada refueler untuk mencegah kontaminasi. Dan ketiga, digitalisasi layanan; mengoptimalkan penggunaan sistem Digital Ground Operation (DGO) atau PADMA agar pemantauan dan validasi transaksi pengisian pesawat dapat dilakukan secara real-time, transparan, dan efisien.
"Pola koordinasi dan kesiapsiagaan di AFT SMB II ini diharapkan dapat menjadi rujukan baku yang diterapkan pada seluruh fasilitas operasional hilir Pertamina di wilayah Sumbagsel," ujarnya.
(zhd)