Eks Menlu Hassan Wirajuda Beberkan Isi Diskusi Prabowo dengan Mantan Presiden dan Wapres
Lusi mahgriefie
Rabu, 04 Maret 2026 - 08:09 WIB
Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Foto: Antara
Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan para mantan presiden, wakil presiden Indonesia, dna sejumlah tokoh disebutkan untuk berdiskusi mengenai eskalasi perang di Kawasan Teluk, Timur Tengah serta dampaknya terhadap Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Periode 2001-2009 Noer Hassan Wirajuda yang juga mengikuti pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3) malam itu.
Hassan dalam jumpa pers mengatakan, mereka yang hadir berdiskusi mengenai situasi di Iran dan implikasinya terhadap Indonesia maupun dunia.
"Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer untuk mengadu kepada siapa, karena PBB sudah tidak berperan dan aturan atau 'rule-based order' hanya 'on paper' dan memang tidak ada kekuatan pemaksa, apalagi kalau itu berkaitan dengan negara-negara besar," ujar Hassan.
Baca juga:Anwar Serukan Diplomasi di Tengah Konflik AS-Iran, Prabowo 'Siap' Terbang ke Teheran untuk Mediasi
Hassan menambahkan, Presiden Prabowo kemudian mengajak seluruh tokoh untuk memikirkan bagaimana Indonesia menempatkan diri, mengingat implikasi dari eskalasi di Teluk tidak hanya kepada urusan keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga terhadap perekonomian.
"Karena itu didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia, khususnya yang menyangkut 'supply oil', minyak dan gas," bebernya.
Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Periode 2001-2009 Noer Hassan Wirajuda yang juga mengikuti pertemuan yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3) malam itu.
Hassan dalam jumpa pers mengatakan, mereka yang hadir berdiskusi mengenai situasi di Iran dan implikasinya terhadap Indonesia maupun dunia.
"Ketika tatanan dunia sudah tidak lagi efektif dan tidak ada lagi peluang kepada negara yang menjadi korban serangan militer untuk mengadu kepada siapa, karena PBB sudah tidak berperan dan aturan atau 'rule-based order' hanya 'on paper' dan memang tidak ada kekuatan pemaksa, apalagi kalau itu berkaitan dengan negara-negara besar," ujar Hassan.
Baca juga:Anwar Serukan Diplomasi di Tengah Konflik AS-Iran, Prabowo 'Siap' Terbang ke Teheran untuk Mediasi
Hassan menambahkan, Presiden Prabowo kemudian mengajak seluruh tokoh untuk memikirkan bagaimana Indonesia menempatkan diri, mengingat implikasi dari eskalasi di Teluk tidak hanya kepada urusan keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga terhadap perekonomian.
"Karena itu didiskusikan tentang implikasinya ini terhadap keseluruhan masalah keamanan dan perdamaian dunia, tetapi juga potensi efek dari perang ini terhadap ekonomi dunia, khususnya yang menyangkut 'supply oil', minyak dan gas," bebernya.