home masjid

Pagi Hari Lailatul Qadar Matahari Terbit Tanpa Sinar Menyilaukan

Rabu, 04 Maret 2026 - 17:00 WIB
Mengetahui tanda-tanda ini bukanlah tujuan utama dari ibadah di sepuluh hari terakhir. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di balik kekhusyukan umat Islam yang mengurung diri dalam iktikaf di masjid-masjid pada penghujung Ramadhan, tersimpan sebuah rasa penasaran yang konsisten dari zaman ke zaman: seperti apakah suasana malam saat takdir seribu bulan itu turun?

Lailatul Qadar memang sebuah rahasia teologis, namun bukan berarti ia tidak meninggalkan jejak. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam kedermawanan ilmunya telah memberikan deskripsi empiris mengenai gejala alam yang menyertai malam agung tersebut agar para pencari ampunan dapat mengenalinya.

Dalam literatur klasik yang diurai kembali oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid melalui kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, tanda-tanda Lailatul Qadar dibagi menjadi dua dimensi waktu: tanda yang menyertai saat malam itu berlangsung dan tanda pada keesokan paginya. Hal ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar peristiwa spiritual internal, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang mempengaruhi harmoni alam semesta.

Petunjuk paling populer adalah mengenai kondisi matahari saat fajar menyingsing setelah malam mulia tersebut berlalu. Syaikh Salim Al-Hilaaly dalam edisi Indonesia yang diterbitkan Pustaka Al-Haura mengutip hadits dari Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu anhu. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

صَبِيْحَةُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَمسُ لاَ شعاع لَهَا، كَاَنَهَا طَشْتٌ حَتَّى تَرْتَفَعُ

Pagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi. (HR. Muslim).

Interpretasi atas hadits ini memberikan gambaran yang sangat visual. Matahari yang terbit tanpa sinar yang menyengat atau menyilaukan diibaratkan seperti bejana (tasyt), yang berarti piringan matahari terlihat jelas bulatannya namun cahayanya meredup. Para ulama dunia, termasuk Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa redupnya sinar matahari ini disebabkan oleh banyaknya malaikat yang naik ke langit setelah menghabiskan malam di bumi, sehingga sayap-sayap dan cahaya mereka menutupi pancaran sinar matahari secara fisik.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya