LANGIT7.ID-Di balik kekhusyukan umat Islam yang mengurung diri dalam iktikaf di masjid-masjid pada penghujung Ramadhan, tersimpan sebuah rasa penasaran yang konsisten dari zaman ke zaman: seperti apakah suasana malam saat takdir seribu bulan itu turun?
Lailatul Qadar memang sebuah rahasia teologis, namun bukan berarti ia tidak meninggalkan jejak. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam kedermawanan ilmunya telah memberikan deskripsi empiris mengenai gejala alam yang menyertai malam agung tersebut agar para pencari ampunan dapat mengenalinya.
Dalam literatur klasik yang diurai kembali oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly dan Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid melalui kitab
Sifat Shaum Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, tanda-tanda Lailatul Qadar dibagi menjadi dua dimensi waktu: tanda yang menyertai saat malam itu berlangsung dan tanda pada keesokan paginya. Hal ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar peristiwa spiritual internal, melainkan sebuah peristiwa kosmik yang mempengaruhi harmoni alam semesta.
Petunjuk paling populer adalah mengenai kondisi matahari saat fajar menyingsing setelah malam mulia tersebut berlalu. Syaikh Salim Al-Hilaaly dalam edisi Indonesia yang diterbitkan Pustaka Al-Haura mengutip hadits dari Ubay bin Ka'ab Radhiyallahu anhu. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
صَبِيْحَةُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ تَطْلُعُ الشَمسُ لاَ شعاع لَهَا، كَاَنَهَا طَشْتٌ حَتَّى تَرْتَفَعُPagi hari malam Lailatul Qadar, matahari terbit tidak menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi. (HR. Muslim).Interpretasi atas hadits ini memberikan gambaran yang sangat visual. Matahari yang terbit tanpa sinar yang menyengat atau menyilaukan diibaratkan seperti bejana (tasyt), yang berarti piringan matahari terlihat jelas bulatannya namun cahayanya meredup. Para ulama dunia, termasuk Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim, menjelaskan bahwa redupnya sinar matahari ini disebabkan oleh banyaknya malaikat yang naik ke langit setelah menghabiskan malam di bumi, sehingga sayap-sayap dan cahaya mereka menutupi pancaran sinar matahari secara fisik.
Selain tanda pada pagi hari, ada pula gambaran mengenai suasana malamnya. Dari Abu Hurairah, terdapat sebuah perumpamaan unik yang disampaikan oleh Rasulullah mengenai penampakan bulan:
أَيُكُم يَذْكُرُ حِيْنَ طَلَعَ الْقَمَرُ، وَهُوَ مِشْلُ شِقِّ جَفْنَةٍSiapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan seperti syiqi jafnah. (HR. Muslim).Istilah
syiqi jafnah secara harafiah berarti separuh bejana atau potongan mangkuk. Hal ini diinterpretasikan oleh sebagian pakar astronomi Islam dan ulama sebagai kondisi bulan yang terlihat tidak bulat utuh, melainkan berbentuk cekung seperti wadah makanan. Petunjuk ini memberikan indikasi bagi umat Islam yang senantiasa menatap langit malam untuk merasakan kehadiran momentum istimewa tersebut.
Deskripsi paling lengkap mengenai atmosfer Lailatul Qadar datang dari riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberikan gambaran suhu dan cuaca yang sangat presisi:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلْقَةٌ لاَ حَارَّةٌ وَلاَ بَارِدَةٌ تُصْبِحُ شَمْسُهَا يَوْمَهَا حَمْرَاءَ ضَعِيْفَةًLailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, dan keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan. (HR. ath-Thayalisi dan al-Bazzar).
Hadits ini menekankan aspek keseimbangan (moderat) dari alam. Malam tersebut tidak ekstrem dalam suhu, memberikan kenyamanan bagi hamba yang berdiri lama dalam shalat malam. Kesan cerah (thalqah) di sini diartikan sebagai langit yang bersih tanpa awan yang mendung atau petir yang mengganggu. Kemerah-merahan pada sinar matahari di pagi harinya menjadi segel penutup yang mengonfirmasi bahwa malam yang baru saja lewat adalah malam seribu bulan.
Sebagai catatan penutup, Syaikh Salim Al-Hilaaly mengingatkan bahwa mengetahui tanda-tanda ini bukanlah tujuan utama dari ibadah di sepuluh hari terakhir. Tanda-tanda alam tersebut hanyalah pelipur lara atau kabar gembira (busyra) bagi mereka yang telah bersungguh-sungguh. Fokus seorang Muslim tetaplah pada keimanan dan pengharapan pahala (ihtisab) di hadapan Allah. Dengan memahami tanda-tanda ini, diharapkan motivasi ibadah seorang hamba justru semakin meningkat setelah Ramadhan berakhir, karena ia merasa telah bersentuhan dengan rahmat yang tak terlukiskan nilainya.
(mif)