home edukasi & pesantren

Kolom Fiqih Sosial: Ramadhan dan Sense of Belonging dalam Keluarga

Rabu, 04 Maret 2026 - 15:44 WIB
Kolom Fiqih Sosial: Ramadhan dan Sense of Belonging dalam Keluarga

Fathor Rahman M.Ag



LANGIT7.ID-Ramadhan sering kali disebut sebagai bulan transformasi spiritual, namun jika kita melihat lebih dekat ke dalam rumah, ia sebenarnya adalah "Samawa journey" yang paling kuat bagi sebuah keluarga. Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat, Ramadhan hadir sebagai jeda paksa yang mengisyaratkan untuk kembali menatap wajah orang-orang tersayang.

Di tengah kecanggihan digitalisasi dan kesibukan yang membuat setiap anggota keluarga seolah hidup dalam "gelembung" masing-masing, Ramadhan hadir bukan sekadar sebagai ritual keagamaan tahunan. Lebih dari itu, bulan suci ini adalah sebuah intervensi sosial yang memaksa kita untuk menekan tombol jeda dari hiruk-pikuk dunia dan kembali menoleh ke bangku keluarga.

Sinkronisasi Waktu di Tengah Kesibukan



Realita kehidupan modern sering kali membuat meja makan di rumah hanya menjadi pajangan. Ayah pulang larut, anak-anak sibuk dengan aktivitas di kamar, dan ibu terjebak dalam rutinitas tanpa henti. Ramadhan mengubah total dinamika ini melalui dua momen sakral: Sahur dan Buka Puasa. Di luar bulan Ramadhan, momen sakral keluarga terbentuk setiap anggota keluarga terlibat untuk menghidupi Ramadhan dengan masing-masing terlibat untuk menyiapkan buka dan sahur bersama.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya