home masjid

Strategi Ibadah Akhir Ramadan: Menjemput Lailatulqadar pada Malam 25, 27, dan 29

Senin, 09 Maret 2026 - 04:00 WIB
Perburuan Lailatulqadar di malam ke-25, 27, dan 29 adalah sebuah undangan untuk merenungi hakikat pengabdian.Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ramadan selalu menyisakan ketegangan yang manis di penghujungnya. Ketika jumlah hari mulai menyusut, sebuah perburuan kolosal mencapai puncaknya. Bukan lagi soal menahan lapar di siang hari, melainkan soal adu daya tahan batin di keheningan malam. Bagi sebagian besar umat Islam, sepuluh hari terakhir adalah maraton spiritual, namun sebuah petunjuk nubuat memberikan koordinat yang lebih presisi untuk menemukan permata tersembunyi bernama Lailatulqadar.

Pijakan operasional bagi para pencari malam kemuliaan ini bersandar pada sebuah instruksi spesifik dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dalam riwayat yang disusun oleh Imam Bukhari, Nabi memberikan arahan mengenai waktu-waktu yang paling potensial untuk menjumpai malam tersebut. Beliau bersabda:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pada malam kedua puluh sembilan, kedua puluh tujuh, kedua puluh lima. (HR. Bukhari).

Argumentasi ini, sebagaimana diulas dalam risalah Lailatul Qadar karya Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah, tidak serta-merta meniadakan malam ganjil lainnya seperti malam kedua puluh satu atau kedua puluh tiga. Namun, urutan yang disebutkan dalam hadis tersebut memberikan isyarat eskalasi kesungguhan. Semakin dekat Ramadan dengan garis finis, semakin kuat pula aroma kemuliaan yang tercium di udara. Malam-malam tersebut dipandang sebagai "tikungan terakhir" di mana seorang mukmin harus memacu seluruh energi penghambaannya.

Dalam perspektif interpretatif, penyebutan malam kedua puluh lima, kedua puluh tujuh, dan kedua puluh sembilan mencerminkan sifat kasih sayang syariat agar manusia tetap terjaga fokusnya saat keletihan mulai melanda. Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah dalam karyanya yang diterbitkan oleh IslamHouse menekankan bahwa instruksi ini adalah sebuah "peta jalan" bagi mereka yang ingin memaksimalkan potensi ibadahnya di tengah keterbatasan raga.

Pandangan ini sejalan dengan analisis mendalam Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitab Fathul Bari. Beliau menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya tanggal pasti Lailatulqadar adalah agar umat Islam terus melakukan upaya pencarian sepanjang sepuluh malam terakhir. Namun, penekanan pada malam-malam ganjil di penghujung bulan, terutama malam ke-27, memiliki sandaran kuat dari banyaknya atsar atau perkataan sahabat yang cenderung menunjuk pada waktu tersebut. Meski demikian, hadis Bukhari di atas mengingatkan agar kewaspadaan tidak mengendur hingga malam terakhir, yakni malam ke-29.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya